Antologi Cerpen: 60 Detik Sebelum Ajal Bergerak

IMG-20170806-WA0008

60 Detik Sebelum Ajal Bergerak adalah buku kumpulan cerita pendek saya yang pertama. Berisi 12 cerita pendek dengan berbagai tema yang berbeda: Cinta dan Kematian adalah salah duanya.

Kalau boleh jujur, saya tak pandai dalam memasarkan sesuatu. Maka saya tidak akan pernah memaksa siapa pun untuk membeli. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dengan menulis ini, saya sudah melakukan yang namanya pemasaran. Dan langsung saja tengok ke bawah.

PRE ORDER

09 Agustus s/d 19 Agustus 2017
20 Agustus proses cetak

60 DETIK SEBELUM AJAL BERGERAK
Sebuah Antologi Cerpen
Oleh: Alif Febriyantoro

Dimensi : 13 x 19 cm
Kertas : Bookpaper 60 gram
Cover : Ivory 230 gram
Tebal : 92 Halaman
ISBN : On Process
Harga : Rp30.000 (Belum termasuk ongkir)
Untuk wilayah Jember dan Situbondo bebas ongkir

Blurb :

Ketika kereta berhenti di Stasiun Bangil, ia basuh air matanya dengan menggunakan selembar tisu yang ia bawa. Beberapa menit kemudian kereta berangkat kembali dengan membawa penumpang lebih banyak. Dan Sekar kembali melamun, menatap keluar jendela. Kita tahu, bahwa dalam beberapa detik ketika kita sedang melamun, hampir seratus persen kita akan mengingat sesuatu yang teramat kita kenang. Ya, hanya kenangan. Tak ada rumah, tak ada keluarga. Tak ada agama.
–Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Tampak begitu klise. Tapi sekali lagi, lelaki itu juga mempunyai perasaan. Dan perasaan adalah renungan masing-masing. Maka jangan salahkan lelaki itu ketika ia tetap duduk di dermaga ini, untuk mengenang seseorang. Dan sepasang kekasih itu tidak ingin pergi begitu saja dari cerita ini. Mereka ingin kenangan mereka ini dapat tersampaikan untuk orang lain. Sebab mereka tahu, akan selalu ada sepasang kekasih lain yang–mungkin–merasakan hal yang sama: Tentang sebuah kehilangan.
–Pasir Putih, Dermaga, dan Senja yang Selalu Dikenang

“Semalam aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku bertemu dengan malaikat tak bertubuh. Ia berkata, bahwa ajal pasti akan menjemputku. Aku sudah hidup telalu lama. Pada akhirnya, umur membuatku merasa sendirian. Maka aku tidak akan menjadi ikan-ikan itu, yang menentang kematian.”
–60 Detik Sebelum Ajal Bergerak

Cara Pemesanan:

Nama:
Nomor. HP:
Jalan:
RT/RW:
Kelurahan:
Kecamatan:
Kabupaten:
Kode pos:
Provinsi:

Kirimkan via email: aliffebri23@gmail.com atau WA: 089625454446

Oh, Bulan Juli …

Saya sempat mengingat, pada awal bulan ini saya buru-buru pergi ke kota rantau. Ya, Jember. Meninggalkan rumah dan keluarga. Saya tahu, bahwa liburan masih belum habis. Tapi saya sebagai mahasiswa akhir, saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. Mungkin bagi orang lain–mahasiswa lain–, lulus yang cepat bukan menjadi pilihan. Tapi saya rasa ini adalah renungan masing-masing.

Saya sempat mengingat, pada akhir bulan Juli nanti, tugas akhir saya harus sudah selesai. Mengingat batas tanggal yang telah ditentukan oleh akademik adalah mutlak. Karena jika saya belum selesai dalam hal ini dan melewati tanggal yang telah ditentukan, maka saya akan menambah semester. Dan tentu, pembayaran ulang setiap semester itu masih berlaku. Oh, sontak saya mengingat orangtua. Cukup kuat untuk menjadi alasan kenapa saya ingin cepat-cepat meluluskan diri.

Saya sempat mengingat, mulai dari tanggal 3 Juli sampai akhir pekan kemarin, saya selalu melakukan bimbingan. Dan ya, Alhamdulillah … sudah dapat acc dari dosen pembimbing. Dalam 2 minggu ini saya ngebut. Yang saya targetkan adalah saya bisa sidang sebelum tanggal 31 Juli. Setelah dapat acc, kemudian saya mengurus semua persyaratan untuk mengajukan sidang. Semua, termasuk ijazah SD – SMA. Saya banyak berpikir. Saya banyak mengeluh. Jujur, rasanya begitu melelahkan.

Dan hari kemarin adalah hari yang benar-benar saya ingat. Semua persyaratan sudah saya siapkan sebelum pergi ke kampus. Dalam hati, saya berkata , akhirnya sebentar lagi saya akan sidang. Oh, saya begitu senang. Sampai pada akhirnya saya sampai di bagian administrasi.

“Sudah lengkap semua, Dik?”

“Ya. Sudah, Pak.”

Orang yang ada di bagian administrasi itu kemudian mengecek semua persyaratan yang saya bawa. Dan duaar … saya seperti tertembak dari kejauhan.

“Transkrip nilaimu mana?”

Saya melamun lama. Beberapa detik, mungkin. Dalam lamunan seperti ini, yang hanya beberapa detik saja, tentu kita hanya akan mengingat yang perlu. Tak ada keluarga. Tak ada kewajiban. Tak ada agama.

Dan saya baru mengingat bahwa ada matakuliah yang belum saya tempuh. Apa yang akan kalian pikirkan? Ya. Benar. Ini adalah kesalahan saya. Tapi walaupun jelas ini adalah kesalahan saya, saya sempat melawan dalam hati.

“Adakah sedikit toleransi yang dapat membantu saya?”

Oh, rasanya kaki ini terasa begitu lemas. Apa yang dapat saya lakukan ketika bermusuhan dengan sistem? Saya tahu, sistem tidak mengenal kata “toleransi”. Apakah saya harus mengambil jalan curang? Ah saya sempat berpikir seperti itu.

Dan pada hari kemarin itu juga saya dilempar ke mena-mana. Dari bagian administrasi ke bagian akademik. Dari bagian akademik disuruh menghadap ke Dekan. Pada akhirnya tidak juga mengubah keadaan. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya hanya bisa pulang. Makan dan lalu tidur.

Oh, bulan Juli … adakah sedikit kebahagiaan yang kau berikan?

Sesampainya di kontrakan, saya langsung menelepon Ibu. Saya bilang kalau saya telah gagal. Bahwa saya tidak bisa lulus tepat waktu. Keluh dan kesal saya sampaikan kepada beliau. Tapi Beliau hanya mengatakan dengan nada yang begitu sederhana.

“Sudahlah, Nak. Jadikan ini pelajaran berharga bagimu. Jangan memandang ke arah belakang lagi, supaya tidak menghalangi jalan ke depannya. Tetap optimis. Mungkin kamu sempat melupakan tentang-NYA. Dan ini benar-benar pelajaran berharga untuk semuanya, mungkin juga termasuk Ibu.”

“Dan bagaimana masalah cerpen yang katamu akan diterbitkan, Nak?”

Oh, dada saya berdegup. Saya masih belum sepenuhnya memahami mengapa Beliau sempat menanyakan hal lain. Hal yang itu menjadi hobi saya. Beliau dengan segala kekecewaannya, masih sempat mengerti dan memberikan saya semangat yang baru.

Saya jawab dengan nada yang begitu rendah, “Alhamdulillah … sudah dalam proses, Bu.

Oh, bulan Juli …

Jember, 18 Juli 2017

Tempat Duduk Pengantin

ilustrasi-kursi

Aku terlihat rapi mengenakan jas pengantin. Hitam pekat, mengalahkan hitamnya malam saat ini. Kerah yang terikat oleh dasi, membuat leher kemejaku sedikit tercekik. Tepat di sebelahku, sosok perempuan yang sudah lama kukenal sedang mengenakan gaun pengantin. Ia terlihat begitu anggun. Di atas panggung, di sebuah kursi yang disebut pelaminan, kami seperti menjadi objek wisata. Tentu saja untuk semua tamu yang meramaikan acara pernikahan kami. Semua diundang. Tanpa terkecuali, termasuk  manusia-manusia masa lalu yang kerap juga disebut mantan. Siapa yang menginginkan pernikahan ini? Tidak ada. Ini seperti juga mewakili sebuah takdir.

Ucapan-ucapan selamat tiba-tiba mengalir membasuh tangan kami. Seakan memberi kesaksian bahwa kami benar-benar menikah. Dan juga seperti menjatuhkan dukungan bahwa kami telah lahir kembali untuk lebih menikmati kehidupan, untuk lebih dan lebih lagi merasakan kebahagiaan. Semua seperti berlebihan dengan kata lebih. Lalu siapa yang akan menghalang kami untuk melanjutkan kehidupan yang baru ini? Tidak ada. Semuanya berakhir di kata setuju dan sepakat. Hanya kami yang dapat menghalangi satu sama lain. Begitulah gerak manusia.

***

Ia adalah sahabatku. Perempuan yang juga mantan dari sahabatku. Semua berawal dari lepasnya ikatan di masa lalu. Pada mulanya, di antara kami tidak terjadi apa-apa. Semua berlangsung sebagaimana etika persahabatan itu mengikat manusia. Namun waktu dan keadaan yang mengubah. Tak ada penjelasan bagaimana persahabatan berubah menjadi cinta. Bagiku itu omong kosong. Sebab setiap manusia juga berhak membuat cintanya sendiri, ini juga berlaku dalam sebuah persahabatan. Sedang aku tidak mengerti mengapa ini berlangsung seakan-akan pernyataan tentang persahabatan jadi cinta itu membuat propaganda di antara kami. Yang aku tahu cuma satu: aku tidak ingin menikah dengannya. Bagaimana bisa aku menikahi mantan sahabatku sendiri? Dan ini adalah sebuah tanda tanya yang hadir sebelum aku resmi menikahinya.

Suatu malam, tiga purnama yang lalu, sahabatku yang berkelamin jantan itu menemuiku di sebuah warung kopi perempatan pasar Barat. Sebelumnya kami sudah berjanji untuk bertemu di sana. Mulanya pembicaraan kami hanya berputar di sela-sela bisnis yang tengah kami rintih. Sebuah bisnis rumah makan kecil. Tentang siapa yang akan mengurus semuanya dan apa yang akan dilakukan ketika pelanggan mulai berkurang. Pembicaraan itu memang penting, namun ada yang lebih penting–tentu saja perihal sahabatku yang berkelamin betina itu, yang saat ini sedang duduk manis di pangkuanku sambil menebar senyum kepada semua tamu–selain bisnis itu.

“Kamu sudah tahu masalahku dengannya, bukan?”

“Jadi aku mohon, bahagiakan dia. Denganku sudah tidak mungkin. Sebab orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami,” katanya sambil membenarkan tempat duduknya.

“Bukan apa, aku tidak mau jika ini karena sebuah keterpaksaan. Aku mengerti tapi aku tahu etika.”

“Lupakan etika! Kamu harus berpikir ini bukan lagi masalah persahabatan. Ini sudah menyangkut masa depan anak yang tengah dikandungnya!”

Mendengar pernyataannya, aku begitu lama berpikir. Dengan segala pertimbangan yang berkecamuk di kepala, akhirnya aku berkata, “Baiklah. Aku akan menikahinya! Kamu sahabatku, selamanya akan begitu.”

“Tapi aku ingin kamu datang di acara pernikahan itu. Bertemulah dengan orangtuanya. Jujurlah kepada mereka, bahwa yang hidup di dalam perutnya itu adalah anakmu!” sambungku.

Malam itu larut dengan beban di kepala. Sungguh berat untuk menjalankan amanah pernikahan, terlebih pernikahan tanpa perasaan yang jelas. Namun aku tidak ingin melihat mereka–sahabatku–bunuh diri secepatnya. Semua tahu, bahwa setiap manusia dapat melakukan ritual bunuh diri. Ketika otak di kepalanya itu bergelut dengan kenyataan yang begitu rumit. Aku tidak bisa menyalahkan keduanya. Sudah terlambat untuk menasehati. Dan beginilah kehidupan. Siapa yang akan tahu? Sekali lagi, tidak ada.

***

Lampu-lampu beterbangan pada setiap inci atap gedung ini. Begitu megah acara pernikahan kami. Begitu cerah wajah semua manusia yang berada di sini. Hidangan-hidangan tertuang bebas di atas meja yang bersifat sombong, begitu panjang seperti menjadi pembatas lebar gedung ini. Manusia-manusia yang menjadi tamu itu saling bersahutan-sahutan. Mereka seperti memperkenalkan diri masing-masing. Menonjolkan diri masing-masing. Seakan semuanya menebar pesona dalam budaya pernikahan yang seharusnya terlihat sedikit lebih sopan. Aku lupa kalau ini adalah sebuah kota.

Aku melihat ke segala arah. Semua terlihat begitu jelas. Aku tidak percaya bahwa pernikahan yang seharusnya tidak terjadi ini membuat semuanya ikut berpura-pura menebarkan senyumnya masing-masing. Perempuan di pangkuanku tiba-tiba berkata:

“Cukup di acara ini kamu berpura-pura bahagia, berpura-pura menjadi manusia! Dan aku tidak mau ketika anak ini lahir, ia akan melihat Ayahnya berpura-pura menjadi seorang ayah.”

Aku seperti ditodong dengan sebilah pisau oleh preman ketika berada di lorong gelap. Hal semacam ini justru membuatku benar-benar menjadi manusia sesungguhnya. Aku melakukan semua ini karena aku percaya, bahwa waktu akan menerjemahkan perihal masa depan, juga tentang kebenaran. Lalu aku kembali menatap wajahnya, menatap sepasang mata yang mengeluakan sedikit air mata. Ia tersenyum kepadaku. Wajah yang kupandang adalah cermin dari karya Tuhan. Dan aku harus menjaganya.

Dalam keadaan kami yang sedikit lengah, tamu-tamu hilang satu demi satu meninggalkan gedung megah ini. Mereka seperti terusir oleh waktu usai sebuah acara yang telah  dijadwalkan pada undangan yang kami sebar jauh-jauh hari. Para tamu memang diusir secara paksa lewat undangan itu. Sebab tradisi yang mengajarkan itu semua. Dan kami kembali diharuskan untuk menebar senyum untuk mereka. Begitu rumit ritual ini. Sampai pada saat gedung ini terlihat benar-benar bersih dari para tamu, kami beranjak dari panggung panas itu. Tiba-tiba ada suara yang berbisik dari belakang, menusuk telinga bagian kiri. Terdengar begitu jelas: ini takdir! Sontak tubuhku merinding. Perlahan-lahan kucoba melihat ke belakang. Tampak sosok putih penuh cahaya, dengan wajah yang sedikit samar-samar. Ia maju satu langkah, semakin mendekat ke arahku. Pundakku terasa dingin. Lalu ia mundur beberapa langkah dan membalikkan badan. Terlihat sepasang sayap membentang di pundaknya. Ia lalu mengepak sayapnya, dan terbang menembus gedung. (*)

Jember, 30 Januari 2017

Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat.
Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun,
ia juga lupa denganmu.
Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi,
kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir.

Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan.
Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar sauh,
dan tak ragu-ragu membunuh hari kemarin.
Tak ada yang pergi sebenarnya.
Tak ada yang datang sebenarnya. Tapi tak ada yang hilang, kataku.

Di batas ruang itu, pada sebuah jam,
kau datang dengan kembang di tangan.
Di sisi ketidakwarasan, sepasang bibirmu mulai berkembang.
Barangkali ada waktu, yang tak mati.
Barangkali aku tak akan lupa. Tapi kita manusia, akhirnya.

Dari tanda tanya tentang bahagia,
mimpi selalu berbicara tentang takdir.
Seperti sajak-sajak itu, yang melangkah dengan kata-kata.
Sajakmu, sajakku, tumpang-tindih.
Kadang, mereka saling membunuh.

Jember, Februari 2017

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu.
Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding.
Sekali lagi, mereka bertanya:
“Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?”

Sajak memang kawan kita, akhirnya.
Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin.
Tapi, siapa yang tahu? Tak ada.
Sajakmu, sajakku, lahir kembali.

Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam.
Tapi, tak ada yang hilang, kataku.
Mereka bertanya, ada apa sebenarnya?

Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku.
Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan.
Sajakmu, sajakku, telah mati di sana.

Jember, Februari 2017

Kadang, Tak Ada yang Membaca

surreal-994749_960_720

Ada daun menjadi kering terkena hujan.
Ada manusia sedang membasuh nasibnya,
pada sungai yang mengalir doa.
Di hadapannya, makhluk bersayap hitam berdiri tegap.
Ia mengambil beberapa bayi, lalu terbang.

Di sini masih mendung, masih saja seperti kemarin.
Barangkali, langit sedang bermain dengan dingin,
seakan tak ingin membuang hujan lagi.
Bisikan kecil tiba-tiba menampar telinga:
“Katakan saja! Atau bunuh saja bulan itu, sesukamu!”

Kadang, manusia berpura-pura membikin semesta.

Jember, Februari 2017

Pada Mulanya, Aku Tidak Percaya

“Sesuatu yang dikatakan lama tak pantas untuk disentuh kembali, begitu kata orang. Namun, semua orang punya ceritanya masing-masing.
Punya nasibnya masing-masing.
Dan kurasa, lebih mungkin untuk menyatukan sesuatu yang lama ketimbang dipaksa untuk menyentuh semua hal yang baru.”

Kisah monyet kecil sudah berakhir. Dan kini menjelma kelahiran lain. Kurasa hal yang baru memang patut untuk dicoba. Proses yang baru dengan orang yang masih sama, akan lebih memudahkan kita untuk lebih mengenal satu sama lain. Tentu saja perihal mengenal lebih dalam bagaimana seharusnya cinta usia dewasa. Karena di usia yang tak pantas lagi dikatakan remaja, cinta bukan lagi mengenai saling menyukai. Bukan lagi juga saling mengerti satu sama lain. Namun ada hal lain yang harus lebih diperhatikan, seperti pola pikir, masa depan, restu, dan yang paling penting ialah bagaimana menyatukan sebuah perbedaan. Cinta dewasa adalah mendekatkan pada sebuah kenyataan. Bukan malah menjauhkannya.

            Malang, 2012. Sudah setahun aku menjadi mahasiswa. Dan aku sudah terbiasa dengan kota Malang. Pun dengan orang-orangnya. Kawan-kawan baru juga semakin bertambah. Akhirnya dengan perlahan-lahan aku melepas kesendirian dan melepas kosku. Beralih dan berteduh pada sebuah kontrakan. Setahun yang lalu, Zulfan yang mengajakku untuk ngontrak bersama kawan-kawan yang juga berasal dari kota yang sama dengannya. Sedangkan aku mengajak Dipo. Di sebuah kontrakan itu pula aku semakin mengenal sebuah interaksi yang baru. Sebuah hubungan yang begitu intim. Semua peristiwa di kota baru ini membuatku semakin nyaman. Semakin betah pula karena keberadaan sosok Anin, bunga masa lalu. Tentu, pada mulanya aku tidak percaya.

            Namun aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Hanya sebagai kawan bicara. Sebagai kawan perempuanku yang paling dekat. Sudah kukatakan padanya, bahwa aku tak menginginkan apa-apa. Kembali dekat dengannya, itu sudah cukup bagiku. Walau semua tahu, perasaan tak mudah untuk dialihkan. Dahulu, aku tidak pernah sedekat ini dengannya. Kini dengan leluasa aku dapat bertemu dengannya. Tidak ada lagi jarak yang biasa dianggap sebagai batas. Di kota ini, semua perihal pertemuan seakan dipermudah. Kuceritakan padanya, bahwa aku mulai menyukai buku. Kukatakan padanya, bahwa aku mulai suka menulis. Dan katanya, aku berbeda dengan aku yang dulu. Dan katanya pula, aku semakin dewasa dan sok bijak. Ah kujelaskan padanya, bahwa setiap orang bisa saja berubah, namun karakter dan kebiasaan itu sulit untuk dirubah. Dia hanya tersenyum ketika aku sedikit berbicara yang mungkin tak dimengerti olehnya. Namun begitulah Anin, selalu memberi senyum yang begitu manis. Kerap juga kutuliskan sepotong puisi untuknya.

Pagi dan Bunga

Kusebut kau Bunga
Dalam kisah yang kutulis sendiri
Sedikit dingin untuk dikenang
Sebuah peristiwa lampau masuk secara diam-diam
Melewati sela-sela jendela yang lupa kututup kemarin

Malam sudah terlampau remang dan basah
Mengadu bersama kelopak jingga yang berbunga
Lalu malaikat kecil hadir di pojok ruangan
Membuka buku usang, lusuh, dan berdebu

Tiga tahun yang lalu,
Di sebuah lokalisasi pendidikan, aku mengenal sebuah nama
Bunga, mengenakan pita merah muda
Di balik derai teduh sebuah becak
Menyapa Pagi dengan bibir yang sedikit basah

Pagi terus berangan dalam malam
Karam bersama arus kebodohan dan keinginan
Untuk memiliki Bunga itu sekali lagi

                                    *AF

            Kutulis puisi itu pada sepotong kertas dan kuberikan padanya ketika aku bertemu dengannya. Kukatakan padanya untuk jangan dibaca terlebih dahulu, baca saja sewaktu di rumah dan bacalah dengan keheningan yang begitu menjadi. Mulanya aku tidak percaya kalau aku kembali masuk dan tenggelam di dalam wajahnya.

            Ketika di kampus, jika ada waktu senggang dan tidak sedang masuk kuliah, aku dan Anin biasanya pergi ke perpustakaan. Sekadar saling berbagi cerita. Di kampus sedang hujan. Dan aku gelisah. Aku tahu, bahwa hujan pasti akan berhenti. Namun kegelisahanku bukan karena hujan. Melainkan terjebak hujan dengan Anin, berdua di dalam perpustakaan pula. Anin begitu pintar dalam membaca raut wajah. Dan aku terlampau bodoh untuk menutupi kegelisahanku.

            Anin duduk dekat jendela, memandang keluar. Sedang aku cukup duduk di atas meja. Tidak sopan memang. Tapi kurasa, akan menjadi sedikit sopan karena aku tidak duduk bersebelahan dengannya. Walau penampilanku serampangan, namun aku masih menghargai kerudung yang Anin kenakan. Aku tak sempat bertanya mengapa tiba-tiba dia memakai kerudung. Berbeda dengan tiga tahun yang lalu. Namun –sekali lagi– setiap orang bisa saja berubah. Kerap Anin sedikit bercerita tentang hujan. Tentang rintik hujan yang begitu manis, katanya. Hujan membuatnya merasa tenang. Kuperhatikan baik-baik wajahnya, dia menikmati. Kelopak matanya sedikit terpejam. Ujung bibirnya sedikit terangkat.

            “Aku ingin keluar dan bertemu dengan hujan.” Katanya.

            Aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Sekadar menjadi penikmat hujan di sela-sela ruang perpustakaan yang kosong. Sebagaimana yang kutahu dahulu, bahwa Anin adalah sosok perempuan yang pemalu. Namun kerap juga dia menjadi sosok perempuan yang menyenangkan ketika suasana hatinya juga berbanding lurus dengan suasana.

            “Eh Fer, kenapa kamu diem aja?”

            “Hehe aku sedang sibuk memperhatikan wajahmu. Saat seperti ini, wajahmu semakin manis saja. Ditambah lagi dengan kamu yang berteduh di bawah kerudungmu.”

            “Ah Fery mulai sok puitis hehe.”

            “Kamu tau gak Fer, dulu ketika aku masih kecil, aku sering bermain dan mandi hujan. Aku suka dengan hujan. Dan aku rindu ingin bermain dengannya lagi.”

            “Wah hebat kamu An. Kalau aku sih beda. Dulu aku takut untuk keluar rumah ketika sedang hujan. Aku lebih memilih bersembunyi di balik ketiak Ibu, hehe.”

            “Ah dasar kamu memang penakut, masak kalah sama perempuan.”

            “Gak usah ngejek. Itu kan dulu, kalau sekarang ya berani lah.”

            “Eh eh Fery ngambek. Jelek ah.”

            Sudah hampir sore. Hujan masih saja mengguyur lingkungan kampus. Terasa begitu dingin. Anin hanya menatapku dengan sayu. Sudah banyak cerita yang kita bagikan. Namun keinginan Anin hanya satu. Ingin keluar, dan bertemu dengan hujan. Aku hanya berpikir dan sedikit mengingat bahwa Anin tidak membawa payung. Lalu bagaimana dia akan keluar dan bertemu dengan hujan?

            Sekali lagi, aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Dan sekali lagi, aku pun tidak berharap apa-apa. Walau sebenarnya ada sedikit keinginan kecil di dalam dada. Ingin memilikinya sekali lagi. Namun kondisinya sudah berbeda. Usia pun sudah jelas berbeda. Dan kurasa, kedekatan yang kembali kualami dengan Anin, sudah cukup bagiku. Sudah cukup membuatku merasakan kembali sebuah romantisme. Tentu bukan lagi perihal cinta monyet kecil. Namun kini kusebut sebagai cinta usia dewasa. Sebab semua tahu. Aku dan Anin pun juga tahu. Bahwa tua itu pasti dan dewasa itu pilihan.

            Pada sebuah senja yang basah, kudapatkan diriku juga basah tersiram hujan. Karena hujan yang tak henti-hentinya mengguyur lingkungan kampus dan perasaan yang tidak nyaman ketika berada di dalam perpustakaan hanya berdua dengan Anin. Mengharuskan dan memaksa kita untuk keluar dan menerobos hujan yang begitu lebat. Dan di sela-sela pukulan hujan, tiba-tiba aku sedikit mengingat sebuah lagu yang sering diputar oleh Ibu: Memori Daun Pisang.

           Kenangan malam minggu waktu jalan-jalan

            Berdua jalan kaki saat turun hujan

            Memori daun pisang takkan terlupakan

            Memori daun pisang menjadi kenangan

            Kira-kira seperti itu lirik lagunya. Entahlah mengapa Ibu sering memutar lagu itu. Barangkali suka, atau bisa saja ada sedikit kenangan. Hujan-hujan berlarian berdua. Mirip video clip lagu-lagu india. Dan ketika aku dihadapkan dengan situasi seperti ini, aku hanya bisa berbisik kecil di dalam dada: sungguh aku bahagia. Itu saja. Bajuku sudah terlampau basah. Dingin pun terasa begitu menjadi. Kuperhatikan wajah Anin yang menggigil. Dia juga sama. Sama-sama merasakan basah dan dingin. Dan kita bernaung sebentar di sebuah warung pinggir jalan.

            “Keinginanmu sudah terkabul, An.”

            “Hehe iya Fer. Tapi kok dingin banget yaa. Aku juga lupa bawa payung tadi. Jadi basah semua ini bajuku. Duh.”

            “Sebentar sebentar. Kok malah berbanding terbalik ini. Katanya kamu suka mandi hujan? Ah sepertinya sekarang yang penakut itu kamu. Eh. Haha.”

            “Loh bukan gitu Fer. Awas kamu ya.”

            Anin menarik tanganku. Kembali kita bermandikan hujan. Senyumku membaur bersama rintik hujan. Dan Anin tertawa, tersenyum, menatapku dengan kedinginan. Begitu tajam hujan yang menyetubuhi kita. Dan bersama hujan pula aku dan Anin terbawa sampai ke rumahnya. Dia masuk dan mengambilkanku sebuah payung. Warnanya hitam.

            “Ini bawa dulu Fer. Kamu kan takut hujan. Hehe”

            “Oh iya, terima kasih sudah basah-basahan dan nganterin aku sampe rumah.”

            Senyum saat berpisah itu yang membuatku selalu ingin kembali memandang wajahnya. Dan garis di bibirnya itu yang membuatku semakin tidak waras setiap harinya.

            Untung saja kontrakanku tidak terlalu jauh dengan rumah Anin. Hanya dipisahkan oleh dua persimpangan jalan. Dan kontrakanku berada tepat di belakang kosku yang lama. Di perumahan ini memang tempatnya mahasiswa perantau. Sebuah perumahan yang jaraknya begitu dekat dengan kampus membuat masyarakat sekitar memaksimalkan peluang dan menuai keuntungan. Aku merasa nyaman berada di tempat tinggal yang baru ini, walaupun hanya berkamar dua. Sebuah kebersamaan yang baru pula karena diharuskan untuk berbagi tempat tidur dengan kawan lainnya. Pada mulanya aku tidak percaya bakal bertemu dengan kawan yang cocok denganku. Sama-sama dari latar belakang yang serupa. Tidak menyukai sebuah kenyamanan. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan begitu mengerti apa yang diinginkan oleh karya-NYA. Sudah petang. Senja sudah hilang. Hujan pun sudah hilang. Kubilas tubuhku. Kubilas semua sisa air hujan yang membasahiku. Juga wajah Anin yang terus saja membekas di pelipis mata. Aku hanya ingin melupakannya, semalam saja.

            Setiap peristiwa pasti akan melahirkan akibat. Dan manusia adalah pelakon dari terciptanya sebab—akibat. Begitu pula dengan peristiwa yang sedang kualami dengan Anin. Mulanya tak sedikitpun terbesit di kening bahwa perasaan lama dapat menjadi sebuah peristiwa yang baru. Sebuah peristiwa yang memaksaku untuk lebih berpikir secara rasional. Sebab dengan kedekatan ini pula kita akan berujung pada sebuah akibat. Dan sebuah akibat adalah nyata keberadaannya.

            Bila dibandingkan dengan perempuan-perempuan lain yang selama ini sudah kukenal di kota ini. Anin masih tetap yang kupilih. Pilihan yang berarti: paling kupertimbangkan. Dan yang jelas terpilih karena statusnya yang lebih dulu kukenal. Sebuah alasan yang cukup rumit memang. Dan jika dikembalikan pada serangkaian peristiwa yang sudah kualami dahulu dengannya, tidak masuk akal jika aku kembali dekat dengannya. Kedekatan yang menurutku sulit untuk dijelaskan. Terlampau rumit untuk diutarakan. Namun yang jelas, ada sebuah tanda tanya dari sebuah peristiwa yang sudah-sudah. Tentu saja perihal kedekatanku dengan Anin semenjak dia pindah ke sini dan tiba-tiba juga satu kampus denganku. Dan pertanyaannya begitu sederhana. Mengapa dia sudi untuk kembali dekat denganku? Semua belum selesai. Masih ada sedikit rahasia yang belum kuketahui. Dan jika dengan merobek-robek kerudungnya aku dapat mengetahui semuanya, sudah pasti akan kulakukan. Sebelumnya sudah kutanyakan perihal kedekatan ini. Dengan jelas dia berkata: Sudah kita jalani saja terlebih dahulu. Toh kita sudah sama-sama dewasa. Dan aku pun mulai berpikiran sama dengannya. Berangkat dari sana kita mulai sedikit memahami, bahwa menyatukan perasaan tak perlu tergesa-gesa. Waktu yang cepat tidak akan menghasilkan proses yang baik. Dan sebuah proses harus benar-benar matang untuk hasil yang matang pula. Pada akhirnya kita sepakat untuk patuh terhadap proses.

***

            Setahun yang lalu, aku masuk dalam organisasi kampus yang bernama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Tidak ada niat apa-apa. Hanya sekadar ingin menyelami dunia literasi. Sekadar ingin memperjelas kesenanganku dalam perihal menulis. Itu saja. Lain tidak. Selama berada di sana, mulanya aku tidak mengetahui bahwa menulis mempunyai dasar. Dasar menulis? Sungguh aku tidak pernah mendengar sebelumnya. Maklum, karena pada awalnya aku hanya mengenal sebuah tulisan dari warung-warung kopi saja. Bermula dari ketidaktahuanku, ada yang sedikit mengganjal. Mengenai aturan-aturan menulis dan semacamnya. Kukira, menulis adalah sebuah kebebasan. Tapi ternyata aku salah besar.

            Di sana aku banyak belajar. Dan tentu saja perlahan-lahan aku mulai meninggalkan ketidaktahuan itu. Perlahan-lahan juga aku dapat memahami arti  dari sebuah tulisan. Dan itu semua berdampak pada sikap dan perilaku. Seperti yang sudah dikatakan oleh Anin bahwa aku berbeda dengan aku yang dulu. Memang semua yang sudah kita lakukan, itu pasti ada efeknya. Tergantung seperti apa yang sudah kita dilakukan.

            Sampai saat ini aku masih menyibukkan diri di sana. Setiap organisasi di kampus pasti mempunyai kegiatannya masing-masing. Dan Karena aku sudah menjadi pengurus di sana, maka aku mempunyai hak suara dalam membuat sebuah kegiatan. Kegiatan ini kuberi nama: Lintas Literasi. Sebuah kegiatan yang melibatkan semua anggota. Dan dari kegiatan ini pula semua dapat menyalurkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada aturan yang mengikat. Mulanya, pengurus lain tidak menyepakati kegiatan ini. Tetapi kujelaskan kepada mereka. Terkadang saat menulis, kita perlu sebuah kebebasan. Karena aku tahu, bahwa setiap orang berhak berpendapat. Aturan dalam menulis hanya bertujuan untuk memperindah pada bagian luarnya saja. Dan kebebasan saat menulis akan memperkuat makna dari tulisan tersebut. Kukatakan pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses. Bukan hasil. Pada mulanya aku tidak percaya bahwa aku dapat melawan sebuah aturan.

            Saat itu sabtu sore. Seperti biasa, setiap hari sabtu akan diadakan Lintas Literasi. Sore itu, setelah selesai menjalankan kegiatan, kusempatkan ke warung kopi dekat kampus untuk menghabiskan sisa kopi yang sudah kupesan siangnya. Aku kaget ketika melihat Anin juga berada di sana. Anin tidak sedang sendirian. Ada dua orang laki-laki sedang berbicara dengannya. Anin tidak melihatku, karena dia duduk membelakangi pintu warung. Namun aku yang berjalan dari pinggir kanan warung, sedikit melihat wajah sampingnya dari jendela warung yang terbuka. Aku masuk. Duduk tepat di belakang Anin. Mengambil koran dan membacanya. Sengaja aku tidak menyapa dan berpura-pura tidak tahu jika dia menanyakan kenapa aku tidak menyapanya. Hari itu aku seperti halnya cecunguk. Benar-benar memanfaatkan fungsi telinga. Dan aku mendengarkan percakapan mereka secara sengaja. Dari percakapan itu pula aku baru mengerti bahwa dua orang yang bersama Anin itu adalah seorang wartawan. Dan ternyata, ayah Anin adalah salah satu dari mereka. Mulanya aku tidak percaya.

            “Loh Fery?” Tiba-tiba Anin menoleh.

            “Eh kamu, An. Kukira siapa.”

            “Ngapain kamu disini? Lanjutku.

          “Tadi aku dari kampus. Minta tanda tangan dosen untuk memenuhi syarat mengikuti ujian susulan. Dan kebetulan saat aku lewat sini, aku melihat teman ayah ini.”

            “Kamu sendiri ngapain di sini Fer?”

       “Oalah. Aku baru selesai dari kegiatan kampus An. Tadi aku sudah dari sini sebenernya. Dan aku ke sini lagi cuma berniat untuk ngabisin kopiku. Hehe.”

            “Emang kegiatan apa Fer? Kegiatan di LMP ta?”

            “Lah itu kamu sudah tau. Jadi aku kan gak perlu repot-repot menjelaskan. Hehe.”

            “Ah kamu ini ya. Nyebelin.”

            “LPM itu Lembaga Pers Mahasiswa ya mas?” Tiba-tiba salah satu dari wartawan itu bertanya kepadaku.

            “Oh iya mas.” Kujawab dengan jawaban yang paling sederhana.

            “Emang ada acara apa mas?” Dia kembali bertanya.

            “Hanya kegiatan tulis-menulis mas.”

            “Oalah bagus itu. Tulis-menulis yang seperti apa?”

            “Membiasakan menulis dengan kebebasan berimajinasi mas.”

            “Loh saya baru tau kalau menulis itu bisa bebas. Ini menarik. Soalnya yang saya tau, menulis itu ada aturannya. Dan tidak bisa menulis dengan bebas begitu saja.”

        “Bukankah sastra mengajarkan tentang kebebasan menulis mas?” Aku memberanikan diri untuk sedikit melawan.

            “Ya tapi kamu sedang berada di lingkungan LPM. Dan di sana kamu diajarkan tentang aturan-aturan dasar jurnalistik. Saya tahu, karena dulu saya juga alumni LPM.”

            “Sebelumnya saya minta maaf mas. Saya bergabung dengan LPM ini hanya sebatas menyalurkan kesenangan saya dalam perihal menulis. Namun saya tidak tertarik dalam dunia jurnalistik.”

            “Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia sastra. Karena sastra menawarkan keindahan dan kebebasan dalam menulis. Dan sastra adalah seni menulis untuk dibaca lebih dari satu kali. Sedangkan jurnalistik hanya satu kali.” Lanjutku semakin tegas.

            “Fery ini suka nulis mas. Iya kan Fer?” Anin menyambar begitu saja.

            “Aku masih belajar kok An.”

            “Tunggu dulu. Tunggu dulu. Temanmu ini punya jiwa sastra ternyata. Boleh kami mewawancaraimu mas?” Kembali wartawan itu bertanya. Kali ini dengan nada yang sedikit emosi.

            “Sekali lagi maaf mas. Saya rasa mulai dari tadi anda sudah melakukan yang namanya wawancara. Dan kepentingan saya di sini hanya sebatas ingin menghabiskan kopi. Anda lihat sendiri, kopi saya sudah habis. Dan saya harus pulang.” Aku berdiri dan mengambil tas. Kuberi mereka sedikit senyuman.

            “Saya pamit duluan mas.”

            “Aku duluan An.”

Anin hanya tersenyum kepadaku. Dan senyuman itu kuanggap sebagai sebuah pengertian dari sikapku yang sedikit menyombongkan diri. Sialan. Aku baru paham bahwa seorang wartawan dapat memancing keluarnya sebuah emosi. Untung saja aku masih bisa mengalihkan emosiku sebagai sebuah perlawanan. Cukup untuk membuat mereka juga sedikit emosi kepadaku. Dan itu harus kulakukan untuk membela diri. Kadang bersikap sombong itu perlu. Sombong yang sifatnya halus tetapi menggugat, itulah yang dinamakan sastra.

***

NB: Ini adalah salah satu bagian dari Novel yang tengah saya susun. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya. Dan terima kasih pula kepada WordPress, karena selama dua belas purnama ini telah memberikan ruang untuk menulis. Harapan saya sederhana, semoga saya tetap istiqomah dalam perihal menulis.

Jember, Desember 2016

Sajak Tentang Emosi

xtusu4dgbbt

Aku ingin menulis sajak, sedikit saja
Karena sunyi ini hampir membunuh doaku
Aku ingin menulis doa, sepenggal saja
Karena pekat ini hampir menampar wajahmu

Kamu percaya,
Masih banyak tempat lain yang lebih indah dari taman, bukan?
Aku ingin mengajakmu ke sana
Seperti pelabuhan, yang tak mengajarkan bunga bermekaran
Aku ingin sekadar belajar melempar sauh di sana

Karena kita pelabuhan, kataku
Tempat di mana semua datang dan pergi
Dan karena kita pintu yang terbuka, kataku
Ambang di mana semua bisa lewat tanpa permisi

Tapi kita manusia, akhirnya
Berhak memilih tempat apa pun yang ia sukai
Berhak memilih tempat mana pun untuk menaruh bunga
Juga melempar sauh

Tapi sajak ini bukan untukmu, juga bukan untuk siapa
Karena aku menulis dengan gelisah, emosi membuncah di mana-mana
Ini untukku, kataku!
Karena aku sudah memilih sebuah tempat
Di dalam dadamu, itu saja!

 

Jember, Desember 2016

Untuk Bunga

img_20161204_203451

Untuk Bunga, yang sedang rebah di pembaringan
Detak jarum jam terus memutar dirinya sendiri
Terus mengulang dirinya sendiri
Sekehendaknya mengatur keberangkatan dan kepulangan

Lalu aku, lelaki yang di balur kekalutan
Sedang mengeja namamu di pengujung malam
Berbisik di sela-sela telinga kirimu:
“Tetaplah tersenyum, maka masalah terselesaikan”

Untuk Bunga, yang sedang menyiram kelopaknya
Aku menulis ini dengan resah dan gelisah
Begitu dingin, sunyi, dan menggigil
Tak ada sepotong jantung dari puisi ini

Hanya sebagian dari ungkapan kecil
Di hari kelahiranmu
Selamat ulang tahun, itu saja!
Dari aku, penikmat senyummu

Jember, 10 Desember 2016