Jembatan Charles dan Cerita Pendek tentang Senja (Dimuat di Media Indonesia edisi 15 Oktober 2017)

jln

            “Suatu saat nanti … dalam keadaan yang tak pernah kita tahu, kita pun akan belajar meninggalkan.”

            Dan wanita itu pun pergi, meninggalkan kekasihnya. Tepat pukul 5 sore. Ketika senja jatuh di kedua mata mereka. Ketika matahari mulai meredup dan menghasilkan siluet bangunan kota yang menakjubkan. Tak ingin kalah, lampu-lampu di jembatan tua ini pun ikut menghasilkan cahaya, menambah kehangatan bagi orang-orang yang berada di sini, di jembatan Charles, Praha. Tapi serumit apakah isi hati laki-laki yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya itu?

            Selama senja tetap bergerak, akan selalu ada kisah tentang sepasang peristiwa: meninggalkan dan ditinggalkan. Senja memang selalu terasa singkat. Tapi bulan seakan melambat, ketika menjumpai sepasang kekasih yang terjebak dalam diorama perpisahan.

            Sampai kapan senja akan selalu melahirkan kejadian-kejadian dramatis? Sampai kapan jembatan tua ini menjadi panggung yang selalu ditimbun kenangan? Oh, jembatan Charles, jembatan tua yang berdiri tegap, dengan 30 patung orang suci yang berjajar di sepanjang sisinya, lampu-lampu klasik bergaya vintage yang juga berjajar di kedua sisinya, semua itu adalah bagian dari kota Praha yang dingin. Sungai Vltava yang pendiam itu tak mudah untuk pergi secepatnya. Begitupun dengan orang-orang yang selalu melewati jembatan tua ini. Jembatan tua yang antik dan artistik ini adalah penghubung antara Lasser Town dan Old Town: dua kota yang akan selalu mengapit jembatan tua ini, selama-lamanya. Kecuali takdir berkata lain. Tentu saja.

***

            Tahun pun tumbuh dan bergerak. Sepasang angsa yang telah tumbuh dewasa itu pun ikut bergerak, ketika arus pelan-pelan membawa mereka ke tepi. Aroma dedaunan, aroma kayu, dingin batu, dan orang-orang yang selalu berangsur ramai, membuat jembatan Charles ini menjadi tempat paling nyaman untuk sejenak menghilangkan penat, atau sekadar berlibur. Atau sekadar bercakap-cakap dengan seseorang, atau saling berbagi pendapat. Dan orang-orang selalu berbicara tentang segala hal yang tumbuh. Segala hal yang menyenangkan, atau sebaliknya.

            Setidaknya ada yang dibuang di sini. Apa saja.

            “Kenapa kau selalu datang ke sini?” tanya seorang laki-laki kepada lawan jenisnya, lima tahun kemudian. Tepat hari ini.

            “Aku suka dengan bentuk lampu-lampu itu.”

            “Hanya itu?”

             “Ya.”

            Seperti burung-burung yang duduk di sisi tua jembatan ini, mereka mengenal tanpa nama. Laki-laki itu pun mengenal beberapa orang di sini tanpa nama, ia hanya butuh bahasa. Ia hanya butuh mendekat lalu memulai sebuah pembicaraan. Meski, sudah banyak orang yang tidak–sepenuhnya–menanggapi.

            Laki-laki itu selalu berada di jembatan tua ini, sebelum senja. Ia selalu datang tepat waktu. Meski ia tahu, bahwa tak ada yang menunggunya. Hanya siluet menara, patung, lampu-lampu klasik, semua yang menghasilkan bayangan, adalah kesunyian paling indah baginya.

            “Kenapa kau selalu datang ke sini?” tanya laki-laki itu kepada seseorang yang lain.

            “Aku suka dengan atap rumah yang berwarna merah itu.”

            “Hanya itu?”

            “Ya.”

            Dan ia akan selalu seperti itu, sampai senja turun di jembatan tua ini.

            Sebenarnya laki-laki itu hanya ingin bercakap-cakap dengan siapa saja yang ia temui di sini. Ia hanya ingin sekadar berbagi kenangan. Sebab ia selalu mengingat ucapan terakhir kekasihnya, “Suatu saat nanti … dalam keadaan yang tak pernah kita tahu, kita pun akan belajar meninggalkan.” Setiap kali ia memulai sebuah pembicaraan kepada orang lain, setiap kali ia ingin menanyakan, “Apakah kau punya kenangan di sini?” Sebelum pertanyaan itu muncul, semua orang yang pernah ditemuinya itu sudah pergi meninggalkannya.

            “Aku selalu ingat fragmen ini: ketika kau, yang mungkin berjalan menjauh ke arah barat, di hadapan senja yang selalu menyayat.”

            Sampai kapan ia terus mengingat yang sudah? Sampai kapan ia terus menunggu kekasihnya? Dan sampai kapan ia mendapatkan jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang terus melayang di kepalanya?

            Selama senja tetap bergerak, perntanyaan-pertanyaan seperti itu tak lagi berguna untuk dijawab.

            “Apakah kau punya kenangan di sini?” Akhirnya laki-laki itu berhasil bertanya kepada sesorang yang berada di ujung timur jembatan tua ini.

            Tentu saja seseorang itu adalah wanita. Mengenakan topi kelasi berwarna abu-abu.

            “Pertanyaan itu sudah sering aku dengar.”

            “Benarkah? Dari siapa?”

            “Kau selalu bertanya kepadaku. Setiap hari, setiap senja.”

            “Oh maaf jika aku terlampau sering bertanya.”

            “Tidak masalah. Aku paham.”

            Sebenarnya, wanita itu hanya ingin tahu, mengapa laki-laki itu selalu berada di jembatan tua ini, sebelum senja. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang–ternyata–masih peduli kepadanya.

            “Lalu, apakah kau tak ingin menjawab pertanyaan yang sering kutanyakan itu?”

            “Pertanyaanmu tak perlu dijawab.”

            “Lalu?”

            “Karena setiap orang pasti memiliki kenangan.”

            “Tapi yang kutanyakan adalah tentang kenangan di jembatan ini.”

            “Ya, tetap saja sama. Setiap orang yang datang ke sini, pasti memiliki kenangan. Maka kau tak pertu bertanya seperti itu.”

            Kenangan memang seperti senjata yang luar biasa ampuh untuk membunuh waktu yang berada di luar lingkaran masa lalu. Lupa adalah salah satu bagian dari kematian penggunanya. Ketika seseorang terjebak dalam lingkaran kenangan, ia akan lupa tentang segalanya, hanya ada kenangan. Tak ada yang lain.

            “Dan apakah kau ingin berbagi kenangan?”

            “Lagi-lagi pertanyaanmu tampak klise.”

            Sejenak, laki-laki itu terdiam. Tapi wanita itu tiba-tiba tertawa riang.

            “Tidak perlu kaku seperti itu. Kita hanya butuh sepotong senja untuk saling mengerti tentang sebuah kenangan.”

            “Tidak usah terlalu dramatis.”

            Dan mereka tertawa lepas, dengan nada yang tak sama. Seketika mereka tampak begitu akrab. Seperti sepasang kekasih yang baru saja kembali dipertemukan setelah sekian lama telah terpisah.

            Mungkin mereka seterusnya akan seperti itu. Saling bercakap-cakap, saling berbagi pendapat, sampai senja datang. Kita tahu, untuk saling mengenal, kita tak butuh sebuah nama. Atau tatapan. Lagi-lagi kebutuhan kita hanyalah bahasa.

            Jam terpojok di angka 5. Orang-orang berangsur pergi meninggalkan jembatan tua ini. Kehangatan senja sudah bersetubuh dengan kota Praha. Sepasang burung Dara duduk di sisi tua jembatan. Mereka saling bercakap-cakap, mungkin. Mereka saling berbagi kehangatan di bawah senja yang ramah. Kemudian salah satu burung mengepak sayapnya, lalu terbang menjauh. Melewati sepasang manusia yang sejak tadi bersandar di sisi tua jembatan bagian timur.

            Selama senja tetap bergerak, segala cerita yang singgah di jembatan tua ini akan selalu menjadi baru. Sebab senja tak ingin, jika ia selalu melihat berbagai peristiwa lama yang selalu diulang-ulang. Dan cerita ini mungkin, sudah ada sebelumnya. Tapi sepasang manusia yang baru saja terlihat akrab itu tak ingin pergi begitu saja dari cerita ini.

            “Senja sudah datang.”

            “Ya.”

            “Akankah kau merindukanku di waktu yang lain setelah ini, seperti kau merindukan kekasihmu itu?” tiba-tiba wanita itu bertanya.

            Laki-laki itu tampak kaget. Laki-laki itu terdiam. Dan ia berpikir cukup lama. Tentu saja.

            “Kau dan jembatan tua ini adalah kenangan tersendiri bagiku,” timpal wanita itu lagi.

            “Kenapa seperti itu?”

            “Tunggu saja sampai senja selesai, kau akan mengerti. Lalu kau boleh pergi, dan kau boleh tak mengingatku lagi setelah ini.”

            Laki-laki itu tampak kebingungan. Lagi-lagi, dua kata yang tepat adalah “tentu saja”.

            Dan di saat seperti ini, mungkin pertanyaan yang begitu sulit dijawab adalah, kenapa senja begitu cepat berlalu? Tapi senja akan selalu bergerak kembali, esok atau sebuah hari setelah hari ini. Ia akan melihat kembali berbagai peristiwa di muka bumi, tentu bukan hanya perihal sepasang kekasih. Karena terlampau banyak peristiwa lain yang ia lihat secara bersamaan di waktu yang begitu singkat.

            Sejenak suasana di sisi tua jembatan ini tampak lengang.

            “Sepertinya senja sudah selesai,” ucap laki-laki itu.

            “Sudahkah kau mengerti?”

            “Tidak. Bagaimana aku bisa mengerti, sedangkan sepasang mata ini menolak senja itu masuk ke dalamnya.”

            “Aku tidak bisa melihat senja itu, atau kepergian keksasihku di masa lalu.”

            Tentu saja.

            “Seperti kau menatapku, hari ini. Kau tak perlu sepasang mata. Yang kaubutuhkan hanya sebuah rasa. Cukup kaurasakan kehadiranku, saat ini.”

            “Sesederhana itukah?”

            “Ya.”

            Selama senja tetap bergerak, jembatan tua ini akan selalu menjadi penghubung antara ingatan dan kenangan.

            Dan hari ini, senja memang telah jatuh di dua pasang mata itu. Tapi adakah yang mengetahui bahwa laki-laki itu adalah seorang tunanetra, selain wanita itu? Laki-laki itu menekan kedua lengannya pada sisi tua jembatan ini. Ia tertunduk ke arah sungai, dengan segala ingatan yang mengalir dari kedua matanya. Dan wanita itu tertegun ketika melihat senja yang tiba-tiba bergerak di sepasang mata itu.

            Kemudian malam memasang ruang, bersama sepasang peristiwa: meninggalkan dan ditinggalkan. (*)

*Cerita ini terinspirasi dari sepotong sajak yang ditulis oleh Goenawan Mohamad yang berjudul, “Jembatan Karel, Praha”

Jember, 20 September 2017

Iklan

Kosong

Beberapa detik sebelum kau tertidur, ada yang membuatmu merasa sedikit gelisah.
Mungkin kota. Atau taman. Oh, barangkali aku hanya menduga.
Di sudut kamarmu, siluet tangan bergerak. Menembus dinding.

Kau bertanya kepada malam, “Adakah sedikit kebahagiaan yang kaurasakan setelah kepergian senja?”
Di waktu yang lain, aku mengingat jelas keinginan yang kaukatakan,
“Aku ingin menjadi bulan,” katamu sebelum kau bersandar di bahuku.

Tapi malam ini kosong.
Dan hanya ini yang aku lihat, dari balik jendela:
Bulan yang mencoba lepas dari kota dan taman.

Jember, 3 Oktober 2017

Sebuah Ingatan yang Tak Ingin Pergi dari Jiwa yang Telah Pergi (Dimuat di Nusantaranews.co edisi 1 Oktober 2017)

floppy-disk-art-nick-gentry-connectionlost

          Raina namamu, gadis kecil yang dulu sering saya angkat ke pundak agar rambutmu yang tebal itu menyentuh sulur Beringin, sebatang pohon yang berada di depan rumah kita. Raina namamu, sebuah nama yang diam-diam diberikan oleh ibumu–perempuan yang kita cintai, selamanya.

            Ketika kau membaca cerita ini, mungkin kau telah mengerti tentang sebuah ketenangan dalam hidup. Dan ketika kau membaca cerita ini, pahamilah, bahwa tubuh saya telah terkubur di dalam tanah, berselimut kain putih. Jiwa saya telah terbang ke langit, bersama kenangan yang selalu terbungkus dalam ingatan. Kau tahu, sebenarnya saya ingin berbagi ingatan denganmu. Saya hanya sekadar ingin memberitahu tentang sebuah rahasia yang mungkin belum sempat diceritakan oleh ibumu.

***

            Saat usiamu genap empat tahun, setiap pagi kau selalu mengajak saya untuk berjalan-jalan ke sebuah taman yang berada di pusat kota. Maka ketika saya sedang sibuk membaca koran di sebuah beranda rumah, dengan lancang kau akan mengganggu saya. Mula-mula kau tarik ujung celana saya.

            “Ayah … Ayah … ayo jalan-jalan ke taman.”

            “Ayo … Yah!”

            “Ah … Ayah!”

            Ketika cukup lama ajakanmu itu saya abaikan, maka kemudian kau akan naik ke pangkuan saya. Tanganmu yang mungil itu akan sibuk membolak-balikkan koran yang saya pegang. Kau tampak begitu kesulitan menggerakkan tanganmu.

            “Ayah baca yang mana?”

            “Emang, Raina sudah bisa baca?”

            “Bisa dong!”

           Saya hanya tersenyum kecil ketika melihat tingkahmu yang menggemaskan. Cukup lama kau akan duduk di pangkuan saya. Kau lupa dengan ajakanmu untuk pergi ke taman. Dan memang seperti itulah saat kau sudah tampak asik dengan sesuatu yang ada di hadapanmu. Tapi ketika kau sudah mengingat kembali, kau akan bertingkah manja supaya saya mengabulkan keinginanmu. Dan di saat bersamaan, ibumu yang sibuk dengan urusan dapur itu  akan berteriak kepadamu. Juga kepada saya.

               “Rai … ayo sarapan dulu. Biasakan sarapan pagi sebelum kau bermain dengan ayahmu.”

                 “Mas … ayolah beri contoh yang baik kepada putrimu.”

            Maka kau akan menutup mulut ini dengan kedua tanganmu. Kau tak akan memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara. Dan ketika beberapa menit kemudian suasana menjadi lengang, ketika ibumu itu semakin sibuk dengan urusan dapurnya, kau akan berbisik di sela-sela telinga.

                 “Ayo, Yah! Ibu sudah tidak ngomel lagi. Ini kesempatan kita!”

                Dan kau akan meloncat keluar dari pangkuan saya. Kemudian kau berlari kecil sambil menarik tangan saya. Pada akhirnya saya telah meloloskan keinginanmu. Kau berlari dan meloncat-loncat di hadapan saya. Rambutmu yang panjang itu mengikuti irama langkah kakimu. Ketika kita sampai di pohon Beringin, kau akan minta untuk naik ke pundak ini. Entah kenapa kau begitu suka dengan pohon Beringin. Katamu, ketika rambutmu itu menyentuh sulur Beringin, kau akan merasa begitu dingin.

            “Angkat Raina lebih tinggi, Yah!”

            “Angkat lagi … angkat lagi!”

            Maka seterusnya kau akan berada di pundak ini, sepanjang perjalanan menuju taman. Tanganmu itu selalu sibuk bermain dengan rambut ini. Dan kedua tumitmu kau hentak-hentakkan tepat di dada ini. Dan ketika kita sampai di taman, kau akan turun lalu duduk pada sebuah bangku taman. Sejenak kau tak ingin diganggu. Seperti biasa, beberapa detik kau akan menutup kedua matamu dan membiarkan angin pagi masuk melewati kulitmu. Ketika kau membuka mata, saya sudah berada di sampingmu. Dan kau akan bersandar di bahu ini.

            Di saat seperti itu, kau akan mulai bercerita. Kau tahu, imajinasimu lebih tinggi daripada pengarang cerita. Kau akan bercerita sewajarnya. Tentang apa saja yang terlihat di hadapanmu. Tentang apa saja yang sedang kaurasakan.

            “Raina ingin menjadi burung, Yah.”

            “Pasti seru ketika Raina punya sayap dan melihat semua orang dari ketinggian.”

            “Mungkin nanti Raina bisa bawa Ayah terbang.”

            “Ayah takut ketinggian, Sayang.”

            “Ah, masa Ayah kalah sama Raina yang masih kecil.”

            “Ayah ingin menjadi pohon saja.”

            Lengang.

            “Kenapa pohon, Yah?”

            “Karena pohon akan selalu menjadi tempat paling nyaman bagi burung-burung.”

            “Coba Raina lihat itu.”

            Saya menunjuk ke arah pohon di seberang.

            “Banyak burung-burung yang hinggap di dahannya,” lanjut saya.

            “Terus, Yah?”

            Ah, kau tampak sedikit kebingungan. Tapi sebenarnya, pada saat itu sayalah yang lebih bingung. Sejenak saya berpikir kembali, untuk menjawab pertanyaanmu.

            “Burung memang akan selalu terbang. Tapi ketika mereka lelah untuk terbang, mereka akan hinggap di dahan pohon, Sayang.”

            “Oh, gitu … jadi bila nanti Raina lelah terbang, Raina akan hinggap ke Ayah?”

            “Gitu, Yah?”

            “Nah. Raina sudah pintar.”

            “Kalau begitu, Raina juga ingin menjadi pohon!”

            Wajahmu terlihat sedikit cemberut, lalu melihat ke arah saya. Saat seperti itu, kau tampak begitu cantik, benar-benar mirip dengan ibumu.

             “Kalau Raina ingin menjadi pohon, Raina harus menjadi seorang ibu terlebih dahulu.”

                 “Ah, Ayah … Raina kan masih kecil.”

         Kemudian sorot matamu terpojok ke sudut taman, kau melihat seorang gelandangan yang sedang tidur dengan selimut usang. Kau bertanya kepada saya, apakah seorang gelandangan itu bahagia. Tentu pada saat itu kau belum sepenuhnya mengerti tentang arti kebahagiaan. Seperti bunga-bunga di taman itu, kau mungkin hanya tahu namanya, tapi kau tak akan tahu berapa umurnya.

             “Kasihan kakek itu, Yah. Apakah dia bahagia?”

          “Dia sedang tidur, Sayang. Tentu saat ini dia merasa bahagia karena bisa tidur dengan nyenyak. Walaupun tanpa kasur.”

             Maka kau akan mengerutkan dahimu, kau tampak kebingungan dengan apa yang saya jelaskan. Mungkin saya keterlaluan karena memberikan pernyataan yang mungkin terlihat rumit bagimu. Tapi saya tak menyangka, ternyata kau paham apa maksudnya.

           Kedua tanganmu menekan sisi bangku taman. Dan tatapanmu kaualihkan pada kedua kakimu yang menjuntai ke bawah. “Kita lebih beruntung dari dia, Yah,” katamu sambil menunduk lesu.

             Sejenak saya menatapmu begitu lama.

            “Ya, kita sudah sangat beruntung. Dan tidur tak butuh kasur. Hanya butuh kantuk yang serius,” saya membatin lalu memelukmu.

            Maka seterusnya kau akan berbincang dengan saya, tentang apa saja. Kadang kau juga akan tertawa kecil, dengan nada yang jenaka. Oh, ayah mana yang tak bahagia ketika ia merasa begitu dekat dengan anaknya?

***

         Dan rahasia yang ingin saya ceritakan adalah ketika usiamu menginjak enam tahun.

            “Ayah kapan pulang, Bu?” tanyamu di sebuah pagi yang lain.

            “Ayahmu sedang kerja di luar kota, Sayang.”

          “Ayo cepat kemas buku-bukumu itu ke dalam tas. Ini adalah hari pertama Raina sekolah. Jangan sampai terlambat!”

            Kau tahu, sebenarnya saya sedang berada di sana, di sampingmu. Memandang wajahmu dari dekat. Saya ingin menyentuh rambutmu yang semakin memanjang itu. Tapi ketika saya menggerakkan tangan ke arah kepalamu, tangan ini malah menembus kepalamu.

         Tujuh hari sebelum kau bertanya tentang kapan saya pulang, saya sudah meninggal, tertabrak kereta. Di hari kematian itu, beberapa detik sebelum kereta itu menambrak saya, seorang pria bersayap hadir di hadapan saya.

            “Kau siapa?” tanya saya.

            “Saya sedang berada di mana?” tanya saya lagi, kepada pria itu.

            “Kau sedang berada di detak terakhir jantungmu, antara dunia dan nasibmu.”

            “Tidak!” tukas saya dengan lantang.

            “Tak usah terkejut. Kau manusia. Kematianmu tak dapat dihindari.”

            Mula-mula ia pegang bahu saya. Kemudian ia angkat saya. Terbang menuju langit. Dan saya melihat dari ketinggian, tubuh saya telah hancur. Orang-orang sibuk mencari bagian tubuh saya yang hilang.

            Ketika mendengar kabar ini, ibumu sibuk berteduh dari basahnya air mata. Setiap saat ia tutupi kesedihannya agar kau tak menanyakan mengapa ia bersedih. Seolah-olah ia menjadi wanita yang pintar dalam hal berpura-pura. Tapi begitulah wanita: Pintar menyembunyikan sesuatu yang dirasa perlu untuk disembunyikan.

            Di alam yang lain, saya selalu merindukanmu, juga ibumu. Saya selalu mencari cara untuk keluar agar dapat melihat kalian. Dan Tuhan, entah kenapa Dia selalu memberi waktu kepada saya, untuk selalu mengunjungi kalian.

            Kadang saya datang ke alam bawah sadarmu. Maka ketika kau bermimpi terbang bersama seekor burung, burung itu adalah saya. Kau terlihat gembira ketika menari bersama awan. Dan ketika kau bangun dari mimpimu, kau akan berkata, “Ah, hanya mimpi. Aku rindu Ayah.” Kemudian kau akan pergi ke kamar mandi. Berhenti sejenak di depan kaca. Kau akan tertawa kecil ketika kau mulai bercermin dan melihat tubuhmu sendiri yang semakin tumbuh besar.

            “Ayah kapan pulang? Ayah yang lain ini … bukanlah ayahku!” ucapmu pada saat itu.

            Oh, saya menangis ketika kau mulai merasa rindu kepada ayah kandungmu. Saya tahu kau tak suka dengan ayahmu yang lain itu. Tapi kau harus terima. Sebab ibumu tak ingin jika kau selalu merasa kesepian. Maka ia mencari ayah lain untuk menjadi ayahmu yang baru.

            Pada saat itu saya begitu kaget ketika melihatmu tergelincir tepat di depan pintu kamar mandi. Kau terjatuh, lalu pingsan. Oh, apa yang sedang Tuhan rencanakan?

           Ketika kau tersadar di sebuah ranjang rumah sakit, kau melihat semuanya tampak begitu aneh. Mula-mula kau bertanya kepada dirimu sendiri, “Siapa aku?”. Kemudian di sampingmu, ibumu membelai kepalamu. Dan ayahmu yang lain itu berdiri di sampingnya, dengan keadaan tegang.

            “Kau adalah Raina, anak gadis kami.” Ibumu mengangis sambil menekan kedua bahumu.

              Kemudian ibumu memelukmu. Dan kau membalas pelukannya.

          Maka seterusnya ingatanmu akan selalu menjadi baru. Kau akan lupa tentang masa lalumu. Kau akan lupa tentang pohon Beringin yang sangat kau sukai itu, tentang sebuah taman, bunga-bunga, atau tentang keinginanmu yang ingin terbang seperti seekor burung. Kau akan lupa, bahwa dulu kau sempat bermain dengan saya, ayah kandungmu.

            Dan ketika kau telah selesai membaca cerita ini, barangkali kau akan merasa risih lalu berpikir bahwa yang menulis ini adalah orang yang sedang sakit jiwa. Tapi percayalah, saya sempat menjadi seorang ayah bagimu. Seorang ayah yang kini telah menjadi sebuah ingatan. Sebuah ingatan yang tak ingin pergi, dari jiwa yang telah pergi. Selamanya. (*)

Jember, 13 Agustus 2017

Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian (Dimuat di Tatkala.co edisi 18 Agustus 2017)

Alif-febrianto.-Cerpen-Wanita-yang-Belum-Mengerti-Tentang-Kepergian.-lukisan-kabul-696x363

Ya. Saya tahu, bahwa saya adalah wanita yang belum mengerti tentang kepergian. Tapi pada akhirnya saya sudah berada di sebuah kereta menuju kota Yogyakarta. Pada akhirnya saya pun pergi. Meninggalkan kota Jember, meninggalkan  rumah, meninggalkan suami dan anak. Ayah saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Disusul Ibu setahun yang lalu. Jadi saya tidak perlu lagi berdebat dengan mereka perihal kepergian ini.

Kereta Logawa sudah berangkat 30 menit yang lalu. Sekar pergi dari rumah secara diam-diam sebelum subuh. Suaminya pun tidak mengetahui perihal keberangkatannya. Sudah sekian lama ia merencanakan keberangkatan ini. Dan setiap kali ia ingin pergi, suaminya melarangnya. Sebagai seorang suami, wajar jika melarang istrinya yang ingin pergi dengan alasan yang tidak jelas. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh suami yang tidak bekerja? Hanya menasehati. Lain tidak.

“Kenapa kamu selalu ingin pergi?” tanya suaminya pada sebuah subuh yang lain.

Lengang.

“Karena saya tidak bekerja? Iya?”

“Itu bukan masalah, Mas.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin pergi, Mas. Itu saja.”

“Jangan selalu menutup diri.”

“Saya tidak bermaksud untuk menutup diri, Mas.”

“Maka dari itu, seharusnya kamu ceritakan dan jelaskan apa yang sedang terjadi dan menjadi masalah, sampai-sampai kamu ingin pergi begitu saja.”

“Justru ketika saya mulai bercerita dan menjelaskan, semuanya akan menjadi masalah, Mas.”

“Pikirkan anak gadis kita, ketika kamu berpikir untuk pergi.”

Sekar hanya diam.

Di bangku penumpang, Sekar duduk dekat jendela. Pukul 8 Pagi. Hari masih muda. Seperti orang-orang lain yang menyukai tempat duduk dekat jendela, mereka paham ketika sedang memandang keluar, mereka pasti akan mengingat sesuatu. Sesuatu yang mungkin sangat dikenangnya.

Oh, saya telah berdosa. Maafkan saya, Mas. Saya tidak pernah mencintaimu. Semenjak pernikahan itu, tidak sedikit pun rasa yang saya berikan kepadamu, Mas. Saya hanya menggunakan logika. Sebab kita menikah karena  dijodohkan oleh orangtua kita. Dan saya harus menuruti keinginan orangtua saya, karena pada saat itu, Ayah saya sedang sakit. Saya takut terjadi apa-apa dengannya. Saya mengerti tentang hakikat sebuah pernikahan. Ketika seorang wanita telah bersuami, maka haram baginya untuk mencintai orang lain. Tapi jodoh belum bisa diukur ketika seseorang sudah menikah. Sekali lagi saya minta maaf, Mas. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya sendiri. Bahwa saya masih memiliki rasa kepada seseorang di masa lalu. Saya juga tidak begitu paham dengan sikap saya sendiri. 15 tahun sejak awal kita menikah, saya mencoba untuk melupakannya. Saya selalu berdoa agar ingatan saya tentangnya segera dihapuskan. Tapi sampai saat ini saya masih mengingat. Dan setiap kali saya mengingat, rasa itu selalu tumbuh. Besar dan lebih besar lagi.

Sempat saya minta cerai kepadamu, Mas. Tapi dengan berat hati kamu mengatakan tidak. Karena satu alasan, kita telah memiliki satu anak. Ya. Itu adalah sebuah logika yang cukup kuat untuk saya pikirkan kembali. Saya pun luluh dan kembali menenangkan diri. Sampai pada suatu saat, saya mendengar kabar darinya di media sosial, dan saya kembali mengingat tentangnya. Saya menangis ketika ia mengatakan bahwa ia juga masih memiliki rasa kepada saya. Sungguh saya benci ketika ia mengatakan itu. Saya marah karena mengingat dahulu ia sama sekali tidak berbuat sesuatu ketika ia tahu saya sedang dijodohkan. Mengapa ia tak pergi ke rumah dan meyakinkan kedua orangtua saya? Ah, tapi semarah apapun saya kepadanya, ia tetap orang yang sama, orang yang sangat saya cintai. Dan semenjak ia memberi kabar, saya sering berkomunikasi dengannya. Saling bertukar pendapat. Ia pernah mengatakan, ketika kami memang berjodoh, kami pasti akan dipertemukan, jika tidak di dunia, maka di akhirat.

Oh, saya tidak berani untuk menceritakan ini semua di hadapanmu, Mas. Tolong pahami. Saya memang salah. Saya berdosa kepadamu, Mas. Saya berdosa kepada anak kita. Terlebih kepada agama kita. Tapi saya telah memilih jalan ini, bahwa saya akan pergi ke rumahnya, di Yogyakarta, tempat dahulu saya pernah menuntut ilmu dan juga awal ketika saya bertemu dengannya. Saya tak peduli apa yang akan terjadi ketika nanti saya sampai di rumahnya, bertemu dengan istrinya atau anak-anaknya. Apapun yang akan terjadi nanti, ketahuilah, saya tak mungkin akan kembali. Saya malu dengan diri saya sendiri. Maka tolong jaga baik-baik anak kita, Mas. Dan Tolong bilang kepadanya, saya sangat menyayanginya.

Terima kasih atas kasih dan sayang yang selama ini telah kamu berikan kepadaku, Mas.”

Di dekat jendela itu, Sekar mengangis. Ia kirim pesan pendek itu–yang sejak tadi ia tulis–kepada suaminya. Kemudian ia menekan tombol “Matikan Daya” pada layar handponenya. Ketika kereta berhenti di Stasiun Bangil, ia basuh air matanya dengan menggunakan selembar tisu yang ia bawa. Beberapa menit kemudian kereta berangkat kembali dengan membawa penumpang lebih banyak. Dan Sekar kembali melamun, menatap keluar jendela. Kita tahu, bahwa dalam beberapa detik ketika kita sedang melamun, hampir seratus persen kita akan mengingat sesuatu yang teramat kita kenang. Ya, hanya kenangan. Tak ada rumah, tak ada keluarga. Tak ada agama.

Seorang gadis kecil duduk di sebelah Sekar. Gadis kecil itu mengenakan baju putih. Rambutnya terurai. Usianya sekitar 8 tahun. Si gadis duduk dengan mengayun-ayunkan kakinya.

“Di mana orangtuamu, Dik?” Sekar menyapa.

Tapi gadis kecil itu hanya diam dan menunduk.

“Kenapa tidak menjawab?” Sekar sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya di depan wajah gadis kecil itu.

“Namamu siapa?”

Tapi gadis kecil itu tetap diam. Sejenak suasana menjadi lengang.

“Apakah Tante berpikir kalau saya tidak bisa bicara?”

“Loh ….”

“Tidak. Tidak. Kenapa kamu berpikir seperti itu?”

“Siapa namamu, Dik?”

“Saya tidak mempunyai nama.”

“Kenapa begitu?”

“Karena saya membunuh Ibu saya sendiri.”

Gadis kecil itu menggenggam tangan Sekar dan menatap begitu tajam. Sekar kaget. Ia juga menatap wajah gadis kecil itu cukup lama, ia berpikir. Dan Sekar sedikit merinding. Tapi Sekar tahu bahwa ia hanya bermimpi.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kereta Logawa yang sejak tadi menyusuri rel Jawa Timur, kini sudah tiba di Stasiun Paron. Sekar tetap berada di dekat jendela itu. Melihat ke arah luar. Melihat awan putih yang masih bergerak bebas di bawah matahari.

Sebentar lagi saya sampai, Mas. Saya harap kamu akan berbuat sesuatu ketika saya datang di depan rumahmu, bertemu dengan istrimu, betemu dengan anak-anakmu. Lalu saya dengan sederhana akan mengatakan kepadamu, bahwa saya mencintaimu, Mas.

Sekar berangkat tanpa memberi kabar kepada lelaki yang dicintainya itu. Tapi ia tahu jalan. Ia tahu keberadaan lelaki itu. Dan ia tahu, bahwa ia akan sampai dengan membawa air mata dan kenangan.

Apakah kamu masih ingat, Mas, ketika dahulu dengan menggunakan kereta, saya mengajakmu untuk bermain ke rumah, untuk bertemu dengan orangtua saya. Ya. Tentu kamu pasti mudah mengingat kenangan kita, Mas. Kita tahu bahwa sepanjang perjalanan, kita hanya butuh kenangan agar kita bisa sampai di tempat tujuan. Kenangan itu seperti juga sebuah keinginan, begitu katamu, Mas. Dan saya hanya menatap matamu dari samping. Entah mengapa kenangan selalu membuat manusia lupa akan segalanya. Tapi yang saya tahu, kenangan adalah ingatan manusia. Ketika manusia memiliki kenangan, maka ia akan hidup. Seperti saat ini, saya seperti lahir kembali. Saya seperti berjalan di atas awan untuk menjemput kehidupan.

Senja jatuh di Stasiun Lempuyangan. Satu demi satu penumpang buru-buru meninggalkan gerbong kereta. Bergerak mengikuti tujuan masing-masing. Dan Sekar pun ikut meninggalkan. Ia turun dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan kereta yang sudah kembali bergerak. Ia sejenak duduk di sebuah peron. Dan kembali melamun.

Di waktu yang sama, pada senja yang lain di kota Jember, seorang lelaki sibuk membaca berulangkali pesan pendek yang dikirim oleh Sekar tadi pagi. Ia menunduk lesu.

“Ibu ke mana, Yah?” tanya anak gadisnya.

Lelaki itu menangis, kemudian memeluknya.

“Ibumu, Nak … Ibumu meninggal … tertabrak kereta.” (*)

Jember, 23 Juni 2017

Antologi Cerpen: 60 Detik Sebelum Ajal Bergerak

IMG-20170806-WA0008

60 Detik Sebelum Ajal Bergerak adalah buku kumpulan cerita pendek saya yang pertama. Berisi 12 cerita pendek dengan berbagai tema yang berbeda: Cinta dan Kematian adalah salah duanya.

Kalau boleh jujur, saya tak pandai dalam memasarkan sesuatu. Maka saya tidak akan pernah memaksa siapa pun untuk membeli. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, dengan menulis ini, saya sudah melakukan yang namanya pemasaran. Dan langsung saja tengok ke bawah.

PRE ORDER

09 Agustus s/d 19 Agustus 2017
20 Agustus proses cetak

60 DETIK SEBELUM AJAL BERGERAK
Sebuah Antologi Cerpen
Oleh: Alif Febriyantoro

Dimensi : 13 x 19 cm
Kertas : Bookpaper 60 gram
Cover : Ivory 230 gram
Tebal : 92 Halaman
ISBN : On Process
Harga : Rp30.000 (Belum termasuk ongkir)
Untuk wilayah Jember dan Situbondo bebas ongkir

Blurb :

Ketika kereta berhenti di Stasiun Bangil, ia basuh air matanya dengan menggunakan selembar tisu yang ia bawa. Beberapa menit kemudian kereta berangkat kembali dengan membawa penumpang lebih banyak. Dan Sekar kembali melamun, menatap keluar jendela. Kita tahu, bahwa dalam beberapa detik ketika kita sedang melamun, hampir seratus persen kita akan mengingat sesuatu yang teramat kita kenang. Ya, hanya kenangan. Tak ada rumah, tak ada keluarga. Tak ada agama.
–Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Tampak begitu klise. Tapi sekali lagi, lelaki itu juga mempunyai perasaan. Dan perasaan adalah renungan masing-masing. Maka jangan salahkan lelaki itu ketika ia tetap duduk di dermaga ini, untuk mengenang seseorang. Dan sepasang kekasih itu tidak ingin pergi begitu saja dari cerita ini. Mereka ingin kenangan mereka ini dapat tersampaikan untuk orang lain. Sebab mereka tahu, akan selalu ada sepasang kekasih lain yang–mungkin–merasakan hal yang sama: Tentang sebuah kehilangan.
–Pasir Putih, Dermaga, dan Senja yang Selalu Dikenang

“Semalam aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku bertemu dengan malaikat tak bertubuh. Ia berkata, bahwa ajal pasti akan menjemputku. Aku sudah hidup telalu lama. Pada akhirnya, umur membuatku merasa sendirian. Maka aku tidak akan menjadi ikan-ikan itu, yang menentang kematian.”
–60 Detik Sebelum Ajal Bergerak

Cara Pemesanan:

Nama:
Nomor. HP:
Jalan:
RT/RW:
Kelurahan:
Kecamatan:
Kabupaten:
Kode pos:
Provinsi:

Kirimkan via email: aliffebri23@gmail.com atau WA: 089625454446

Oh, Bulan Juli …

Saya sempat mengingat, pada awal bulan ini saya buru-buru pergi ke kota rantau. Ya, Jember. Meninggalkan rumah dan keluarga. Saya tahu, bahwa liburan masih belum habis. Tapi saya sebagai mahasiswa akhir, saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. Mungkin bagi orang lain–mahasiswa lain–, lulus yang cepat bukan menjadi pilihan. Tapi saya rasa ini adalah renungan masing-masing.

Saya sempat mengingat, pada akhir bulan Juli nanti, tugas akhir saya harus sudah selesai. Mengingat batas tanggal yang telah ditentukan oleh akademik adalah mutlak. Karena jika saya belum selesai dalam hal ini dan melewati tanggal yang telah ditentukan, maka saya akan menambah semester. Dan tentu, pembayaran ulang setiap semester itu masih berlaku. Oh, sontak saya mengingat orangtua. Cukup kuat untuk menjadi alasan kenapa saya ingin cepat-cepat meluluskan diri.

Saya sempat mengingat, mulai dari tanggal 3 Juli sampai akhir pekan kemarin, saya selalu melakukan bimbingan. Dan ya, Alhamdulillah … sudah dapat acc dari dosen pembimbing. Dalam 2 minggu ini saya ngebut. Yang saya targetkan adalah saya bisa sidang sebelum tanggal 31 Juli. Setelah dapat acc, kemudian saya mengurus semua persyaratan untuk mengajukan sidang. Semua, termasuk ijazah SD – SMA. Saya banyak berpikir. Saya banyak mengeluh. Jujur, rasanya begitu melelahkan.

Dan hari kemarin adalah hari yang benar-benar saya ingat. Semua persyaratan sudah saya siapkan sebelum pergi ke kampus. Dalam hati, saya berkata , akhirnya sebentar lagi saya akan sidang. Oh, saya begitu senang. Sampai pada akhirnya saya sampai di bagian administrasi.

“Sudah lengkap semua, Dik?”

“Ya. Sudah, Pak.”

Orang yang ada di bagian administrasi itu kemudian mengecek semua persyaratan yang saya bawa. Dan duaar … saya seperti tertembak dari kejauhan.

“Transkrip nilaimu mana?”

Saya melamun lama. Beberapa detik, mungkin. Dalam lamunan seperti ini, yang hanya beberapa detik saja, tentu kita hanya akan mengingat yang perlu. Tak ada keluarga. Tak ada kewajiban. Tak ada agama.

Dan saya baru mengingat bahwa ada matakuliah yang belum saya tempuh. Apa yang akan kalian pikirkan? Ya. Benar. Ini adalah kesalahan saya. Tapi walaupun jelas ini adalah kesalahan saya, saya sempat melawan dalam hati.

“Adakah sedikit toleransi yang dapat membantu saya?”

Oh, rasanya kaki ini terasa begitu lemas. Apa yang dapat saya lakukan ketika bermusuhan dengan sistem? Saya tahu, sistem tidak mengenal kata “toleransi”. Apakah saya harus mengambil jalan curang? Ah saya sempat berpikir seperti itu.

Dan pada hari kemarin itu juga saya dilempar ke mena-mana. Dari bagian administrasi ke bagian akademik. Dari bagian akademik disuruh menghadap ke Dekan. Pada akhirnya tidak juga mengubah keadaan. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya hanya bisa pulang. Makan dan lalu tidur.

Oh, bulan Juli … adakah sedikit kebahagiaan yang kau berikan?

Sesampainya di kontrakan, saya langsung menelepon Ibu. Saya bilang kalau saya telah gagal. Bahwa saya tidak bisa lulus tepat waktu. Keluh dan kesal saya sampaikan kepada beliau. Tapi Beliau hanya mengatakan dengan nada yang begitu sederhana.

“Sudahlah, Nak. Jadikan ini pelajaran berharga bagimu. Jangan memandang ke arah belakang lagi, supaya tidak menghalangi jalan ke depannya. Tetap optimis. Mungkin kamu sempat melupakan tentang-NYA. Dan ini benar-benar pelajaran berharga untuk semuanya, mungkin juga termasuk Ibu.”

“Dan bagaimana masalah cerpen yang katamu akan diterbitkan, Nak?”

Oh, dada saya berdegup. Saya masih belum sepenuhnya memahami mengapa Beliau sempat menanyakan hal lain. Hal yang itu menjadi hobi saya. Beliau dengan segala kekecewaannya, masih sempat mengerti dan memberikan saya semangat yang baru.

Saya jawab dengan nada yang begitu rendah, “Alhamdulillah … sudah dalam proses, Bu.

Oh, bulan Juli …

Jember, 18 Juli 2017

Tempat Duduk Pengantin

ilustrasi-kursi

Aku terlihat rapi mengenakan jas pengantin. Hitam pekat, mengalahkan hitamnya malam saat ini. Kerah yang terikat oleh dasi, membuat leher kemejaku sedikit tercekik. Tepat di sebelahku, sosok perempuan yang sudah lama kukenal sedang mengenakan gaun pengantin. Ia terlihat begitu anggun. Di atas panggung, di sebuah kursi yang disebut pelaminan, kami seperti menjadi objek wisata. Tentu saja untuk semua tamu yang meramaikan acara pernikahan kami. Semua diundang. Tanpa terkecuali, termasuk  manusia-manusia masa lalu yang kerap juga disebut mantan. Siapa yang menginginkan pernikahan ini? Tidak ada. Ini seperti juga mewakili sebuah takdir.

Ucapan-ucapan selamat tiba-tiba mengalir membasuh tangan kami. Seakan memberi kesaksian bahwa kami benar-benar menikah. Dan juga seperti menjatuhkan dukungan bahwa kami telah lahir kembali untuk lebih menikmati kehidupan, untuk lebih dan lebih lagi merasakan kebahagiaan. Semua seperti berlebihan dengan kata lebih. Lalu siapa yang akan menghalang kami untuk melanjutkan kehidupan yang baru ini? Tidak ada. Semuanya berakhir di kata setuju dan sepakat. Hanya kami yang dapat menghalangi satu sama lain. Begitulah gerak manusia.

***

Ia adalah sahabatku. Perempuan yang juga mantan dari sahabatku. Semua berawal dari lepasnya ikatan di masa lalu. Pada mulanya, di antara kami tidak terjadi apa-apa. Semua berlangsung sebagaimana etika persahabatan itu mengikat manusia. Namun waktu dan keadaan yang mengubah. Tak ada penjelasan bagaimana persahabatan berubah menjadi cinta. Bagiku itu omong kosong. Sebab setiap manusia juga berhak membuat cintanya sendiri, ini juga berlaku dalam sebuah persahabatan. Sedang aku tidak mengerti mengapa ini berlangsung seakan-akan pernyataan tentang persahabatan jadi cinta itu membuat propaganda di antara kami. Yang aku tahu cuma satu: aku tidak ingin menikah dengannya. Bagaimana bisa aku menikahi mantan sahabatku sendiri? Dan ini adalah sebuah tanda tanya yang hadir sebelum aku resmi menikahinya.

Suatu malam, tiga purnama yang lalu, sahabatku yang berkelamin jantan itu menemuiku di sebuah warung kopi perempatan pasar Barat. Sebelumnya kami sudah berjanji untuk bertemu di sana. Mulanya pembicaraan kami hanya berputar di sela-sela bisnis yang tengah kami rintih. Sebuah bisnis rumah makan kecil. Tentang siapa yang akan mengurus semuanya dan apa yang akan dilakukan ketika pelanggan mulai berkurang. Pembicaraan itu memang penting, namun ada yang lebih penting–tentu saja perihal sahabatku yang berkelamin betina itu, yang saat ini sedang duduk manis di pangkuanku sambil menebar senyum kepada semua tamu–selain bisnis itu.

“Kamu sudah tahu masalahku dengannya, bukan?”

“Jadi aku mohon, bahagiakan dia. Denganku sudah tidak mungkin. Sebab orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami,” katanya sambil membenarkan tempat duduknya.

“Bukan apa, aku tidak mau jika ini karena sebuah keterpaksaan. Aku mengerti tapi aku tahu etika.”

“Lupakan etika! Kamu harus berpikir ini bukan lagi masalah persahabatan. Ini sudah menyangkut masa depan anak yang tengah dikandungnya!”

Mendengar pernyataannya, aku begitu lama berpikir. Dengan segala pertimbangan yang berkecamuk di kepala, akhirnya aku berkata, “Baiklah. Aku akan menikahinya! Kamu sahabatku, selamanya akan begitu.”

“Tapi aku ingin kamu datang di acara pernikahan itu. Bertemulah dengan orangtuanya. Jujurlah kepada mereka, bahwa yang hidup di dalam perutnya itu adalah anakmu!” sambungku.

Malam itu larut dengan beban di kepala. Sungguh berat untuk menjalankan amanah pernikahan, terlebih pernikahan tanpa perasaan yang jelas. Namun aku tidak ingin melihat mereka–sahabatku–bunuh diri secepatnya. Semua tahu, bahwa setiap manusia dapat melakukan ritual bunuh diri. Ketika otak di kepalanya itu bergelut dengan kenyataan yang begitu rumit. Aku tidak bisa menyalahkan keduanya. Sudah terlambat untuk menasehati. Dan beginilah kehidupan. Siapa yang akan tahu? Sekali lagi, tidak ada.

***

Lampu-lampu beterbangan pada setiap inci atap gedung ini. Begitu megah acara pernikahan kami. Begitu cerah wajah semua manusia yang berada di sini. Hidangan-hidangan tertuang bebas di atas meja yang bersifat sombong, begitu panjang seperti menjadi pembatas lebar gedung ini. Manusia-manusia yang menjadi tamu itu saling bersahutan-sahutan. Mereka seperti memperkenalkan diri masing-masing. Menonjolkan diri masing-masing. Seakan semuanya menebar pesona dalam budaya pernikahan yang seharusnya terlihat sedikit lebih sopan. Aku lupa kalau ini adalah sebuah kota.

Aku melihat ke segala arah. Semua terlihat begitu jelas. Aku tidak percaya bahwa pernikahan yang seharusnya tidak terjadi ini membuat semuanya ikut berpura-pura menebarkan senyumnya masing-masing. Perempuan di pangkuanku tiba-tiba berkata:

“Cukup di acara ini kamu berpura-pura bahagia, berpura-pura menjadi manusia! Dan aku tidak mau ketika anak ini lahir, ia akan melihat Ayahnya berpura-pura menjadi seorang ayah.”

Aku seperti ditodong dengan sebilah pisau oleh preman ketika berada di lorong gelap. Hal semacam ini justru membuatku benar-benar menjadi manusia sesungguhnya. Aku melakukan semua ini karena aku percaya, bahwa waktu akan menerjemahkan perihal masa depan, juga tentang kebenaran. Lalu aku kembali menatap wajahnya, menatap sepasang mata yang mengeluakan sedikit air mata. Ia tersenyum kepadaku. Wajah yang kupandang adalah cermin dari karya Tuhan. Dan aku harus menjaganya.

Dalam keadaan kami yang sedikit lengah, tamu-tamu hilang satu demi satu meninggalkan gedung megah ini. Mereka seperti terusir oleh waktu usai sebuah acara yang telah  dijadwalkan pada undangan yang kami sebar jauh-jauh hari. Para tamu memang diusir secara paksa lewat undangan itu. Sebab tradisi yang mengajarkan itu semua. Dan kami kembali diharuskan untuk menebar senyum untuk mereka. Begitu rumit ritual ini. Sampai pada saat gedung ini terlihat benar-benar bersih dari para tamu, kami beranjak dari panggung panas itu. Tiba-tiba ada suara yang berbisik dari belakang, menusuk telinga bagian kiri. Terdengar begitu jelas: ini takdir! Sontak tubuhku merinding. Perlahan-lahan kucoba melihat ke belakang. Tampak sosok putih penuh cahaya, dengan wajah yang sedikit samar-samar. Ia maju satu langkah, semakin mendekat ke arahku. Pundakku terasa dingin. Lalu ia mundur beberapa langkah dan membalikkan badan. Terlihat sepasang sayap membentang di pundaknya. Ia lalu mengepak sayapnya, dan terbang menembus gedung. (*)

Jember, 30 Januari 2017

Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat.
Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun,
ia juga lupa denganmu.
Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi,
kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir.

Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan.
Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar sauh,
dan tak ragu-ragu membunuh hari kemarin.
Tak ada yang pergi sebenarnya.
Tak ada yang datang sebenarnya. Tapi tak ada yang hilang, kataku.

Di batas ruang itu, pada sebuah jam,
kau datang dengan kembang di tangan.
Di sisi ketidakwarasan, sepasang bibirmu mulai berkembang.
Barangkali ada waktu, yang tak mati.
Barangkali aku tak akan lupa. Tapi kita manusia, akhirnya.

Dari tanda tanya tentang bahagia,
mimpi selalu berbicara tentang takdir.
Seperti sajak-sajak itu, yang melangkah dengan kata-kata.
Sajakmu, sajakku, tumpang-tindih.
Kadang, mereka saling membunuh.

Jember, Februari 2017

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu.
Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding.
Sekali lagi, mereka bertanya:
“Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?”

Sajak memang kawan kita, akhirnya.
Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin.
Tapi, siapa yang tahu? Tak ada.
Sajakmu, sajakku, lahir kembali.

Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam.
Tapi, tak ada yang hilang, kataku.
Mereka bertanya, ada apa sebenarnya?

Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku.
Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan.
Sajakmu, sajakku, telah mati di sana.

Jember, Februari 2017