Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat.
Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun,
ia juga lupa denganmu.
Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi,
kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir.

Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan.
Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar sauh,
dan tak ragu-ragu membunuh hari kemarin.
Tak ada yang pergi sebenarnya.
Tak ada yang datang sebenarnya. Tapi tak ada yang hilang, kataku.

Di batas ruang itu, pada sebuah jam,
kau datang dengan kembang di tangan.
Di sisi ketidakwarasan, sepasang bibirmu mulai berkembang.
Barangkali ada waktu, yang tak mati.
Barangkali aku tak akan lupa. Tapi kita manusia, akhirnya.

Dari tanda tanya tentang bahagia,
mimpi selalu berbicara tentang takdir.
Seperti sajak-sajak itu, yang melangkah dengan kata-kata.
Sajakmu, sajakku, tumpang-tindih.
Kadang, mereka saling membunuh.

Jember, Februari 2017

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu.
Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding.
Sekali lagi, mereka bertanya:
“Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?”

Sajak memang kawan kita, akhirnya.
Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin.
Tapi, siapa yang tahu? Tak ada.
Sajakmu, sajakku, lahir kembali.

Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam.
Tapi, tak ada yang hilang, kataku.
Mereka bertanya, ada apa sebenarnya?

Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku.
Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan.
Sajakmu, sajakku, telah mati di sana.

Jember, Februari 2017

Kadang, Tak Ada yang Membaca

surreal-994749_960_720

Ada daun menjadi kering terkena hujan.
Ada manusia sedang membasuh nasibnya,
pada sungai yang mengalir doa.
Di hadapannya, makhluk bersayap hitam berdiri tegap.
Ia mengambil beberapa bayi, lalu terbang.

Di sini masih mendung, masih saja seperti kemarin.
Barangkali, langit sedang bermain dengan dingin,
seakan tak ingin membuang hujan lagi.
Bisikan kecil tiba-tiba menampar telinga:
“Katakan saja! Atau bunuh saja bulan itu, sesukamu!”

Kadang, manusia berpura-pura membikin semesta.

Jember, Februari 2017

Pada Mulanya, Aku Tidak Percaya

“Sesuatu yang dikatakan lama tak pantas untuk disentuh kembali, begitu kata orang. Namun, semua orang punya ceritanya masing-masing.
Punya nasibnya masing-masing.
Dan kurasa, lebih mungkin untuk menyatukan sesuatu yang lama ketimbang dipaksa untuk menyentuh semua hal yang baru.”

Kisah monyet kecil sudah berakhir. Dan kini menjelma kelahiran lain. Kurasa hal yang baru memang patut untuk dicoba. Proses yang baru dengan orang yang masih sama, akan lebih memudahkan kita untuk lebih mengenal satu sama lain. Tentu saja perihal mengenal lebih dalam bagaimana seharusnya cinta usia dewasa. Karena di usia yang tak pantas lagi dikatakan remaja, cinta bukan lagi mengenai saling menyukai. Bukan lagi juga saling mengerti satu sama lain. Namun ada hal lain yang harus lebih diperhatikan, seperti pola pikir, masa depan, restu, dan yang paling penting ialah bagaimana menyatukan sebuah perbedaan. Cinta dewasa adalah mendekatkan pada sebuah kenyataan. Bukan malah menjauhkannya.

            Malang, 2012. Sudah setahun aku menjadi mahasiswa. Dan aku sudah terbiasa dengan kota Malang. Pun dengan orang-orangnya. Kawan-kawan baru juga semakin bertambah. Akhirnya dengan perlahan-lahan aku melepas kesendirian dan melepas kosku. Beralih dan berteduh pada sebuah kontrakan. Setahun yang lalu, Zulfan yang mengajakku untuk ngontrak bersama kawan-kawan yang juga berasal dari kota yang sama dengannya. Sedangkan aku mengajak Dipo. Di sebuah kontrakan itu pula aku semakin mengenal sebuah interaksi yang baru. Sebuah hubungan yang begitu intim. Semua peristiwa di kota baru ini membuatku semakin nyaman. Semakin betah pula karena keberadaan sosok Anin, bunga masa lalu. Tentu, pada mulanya aku tidak percaya.

            Namun aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Hanya sebagai kawan bicara. Sebagai kawan perempuanku yang paling dekat. Sudah kukatakan padanya, bahwa aku tak menginginkan apa-apa. Kembali dekat dengannya, itu sudah cukup bagiku. Walau semua tahu, perasaan tak mudah untuk dialihkan. Dahulu, aku tidak pernah sedekat ini dengannya. Kini dengan leluasa aku dapat bertemu dengannya. Tidak ada lagi jarak yang biasa dianggap sebagai batas. Di kota ini, semua perihal pertemuan seakan dipermudah. Kuceritakan padanya, bahwa aku mulai menyukai buku. Kukatakan padanya, bahwa aku mulai suka menulis. Dan katanya, aku berbeda dengan aku yang dulu. Dan katanya pula, aku semakin dewasa dan sok bijak. Ah kujelaskan padanya, bahwa setiap orang bisa saja berubah, namun karakter dan kebiasaan itu sulit untuk dirubah. Dia hanya tersenyum ketika aku sedikit berbicara yang mungkin tak dimengerti olehnya. Namun begitulah Anin, selalu memberi senyum yang begitu manis. Kerap juga kutuliskan sepotong puisi untuknya.

Pagi dan Bunga

Kusebut kau Bunga
Dalam kisah yang kutulis sendiri
Sedikit dingin untuk dikenang
Sebuah peristiwa lampau masuk secara diam-diam
Melewati sela-sela jendela yang lupa kututup kemarin

Malam sudah terlampau remang dan basah
Mengadu bersama kelopak jingga yang berbunga
Lalu malaikat kecil hadir di pojok ruangan
Membuka buku usang, lusuh, dan berdebu

Tiga tahun yang lalu,
Di sebuah lokalisasi pendidikan, aku mengenal sebuah nama
Bunga, mengenakan pita merah muda
Di balik derai teduh sebuah becak
Menyapa Pagi dengan bibir yang sedikit basah

Pagi terus berangan dalam malam
Karam bersama arus kebodohan dan keinginan
Untuk memiliki Bunga itu sekali lagi

                                    *AF

            Kutulis puisi itu pada sepotong kertas dan kuberikan padanya ketika aku bertemu dengannya. Kukatakan padanya untuk jangan dibaca terlebih dahulu, baca saja sewaktu di rumah dan bacalah dengan keheningan yang begitu menjadi. Mulanya aku tidak percaya kalau aku kembali masuk dan tenggelam di dalam wajahnya.

            Ketika di kampus, jika ada waktu senggang dan tidak sedang masuk kuliah, aku dan Anin biasanya pergi ke perpustakaan. Sekadar saling berbagi cerita. Di kampus sedang hujan. Dan aku gelisah. Aku tahu, bahwa hujan pasti akan berhenti. Namun kegelisahanku bukan karena hujan. Melainkan terjebak hujan dengan Anin, berdua di dalam perpustakaan pula. Anin begitu pintar dalam membaca raut wajah. Dan aku terlampau bodoh untuk menutupi kegelisahanku.

            Anin duduk dekat jendela, memandang keluar. Sedang aku cukup duduk di atas meja. Tidak sopan memang. Tapi kurasa, akan menjadi sedikit sopan karena aku tidak duduk bersebelahan dengannya. Walau penampilanku serampangan, namun aku masih menghargai kerudung yang Anin kenakan. Aku tak sempat bertanya mengapa tiba-tiba dia memakai kerudung. Berbeda dengan tiga tahun yang lalu. Namun –sekali lagi– setiap orang bisa saja berubah. Kerap Anin sedikit bercerita tentang hujan. Tentang rintik hujan yang begitu manis, katanya. Hujan membuatnya merasa tenang. Kuperhatikan baik-baik wajahnya, dia menikmati. Kelopak matanya sedikit terpejam. Ujung bibirnya sedikit terangkat.

            “Aku ingin keluar dan bertemu dengan hujan.” Katanya.

            Aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Sekadar menjadi penikmat hujan di sela-sela ruang perpustakaan yang kosong. Sebagaimana yang kutahu dahulu, bahwa Anin adalah sosok perempuan yang pemalu. Namun kerap juga dia menjadi sosok perempuan yang menyenangkan ketika suasana hatinya juga berbanding lurus dengan suasana.

            “Eh Fer, kenapa kamu diem aja?”

            “Hehe aku sedang sibuk memperhatikan wajahmu. Saat seperti ini, wajahmu semakin manis saja. Ditambah lagi dengan kamu yang berteduh di bawah kerudungmu.”

            “Ah Fery mulai sok puitis hehe.”

            “Kamu tau gak Fer, dulu ketika aku masih kecil, aku sering bermain dan mandi hujan. Aku suka dengan hujan. Dan aku rindu ingin bermain dengannya lagi.”

            “Wah hebat kamu An. Kalau aku sih beda. Dulu aku takut untuk keluar rumah ketika sedang hujan. Aku lebih memilih bersembunyi di balik ketiak Ibu, hehe.”

            “Ah dasar kamu memang penakut, masak kalah sama perempuan.”

            “Gak usah ngejek. Itu kan dulu, kalau sekarang ya berani lah.”

            “Eh eh Fery ngambek. Jelek ah.”

            Sudah hampir sore. Hujan masih saja mengguyur lingkungan kampus. Terasa begitu dingin. Anin hanya menatapku dengan sayu. Sudah banyak cerita yang kita bagikan. Namun keinginan Anin hanya satu. Ingin keluar, dan bertemu dengan hujan. Aku hanya berpikir dan sedikit mengingat bahwa Anin tidak membawa payung. Lalu bagaimana dia akan keluar dan bertemu dengan hujan?

            Sekali lagi, aku dan Anin tidak terjadi apa-apa. Dan sekali lagi, aku pun tidak berharap apa-apa. Walau sebenarnya ada sedikit keinginan kecil di dalam dada. Ingin memilikinya sekali lagi. Namun kondisinya sudah berbeda. Usia pun sudah jelas berbeda. Dan kurasa, kedekatan yang kembali kualami dengan Anin, sudah cukup bagiku. Sudah cukup membuatku merasakan kembali sebuah romantisme. Tentu bukan lagi perihal cinta monyet kecil. Namun kini kusebut sebagai cinta usia dewasa. Sebab semua tahu. Aku dan Anin pun juga tahu. Bahwa tua itu pasti dan dewasa itu pilihan.

            Pada sebuah senja yang basah, kudapatkan diriku juga basah tersiram hujan. Karena hujan yang tak henti-hentinya mengguyur lingkungan kampus dan perasaan yang tidak nyaman ketika berada di dalam perpustakaan hanya berdua dengan Anin. Mengharuskan dan memaksa kita untuk keluar dan menerobos hujan yang begitu lebat. Dan di sela-sela pukulan hujan, tiba-tiba aku sedikit mengingat sebuah lagu yang sering diputar oleh Ibu: Memori Daun Pisang.

           Kenangan malam minggu waktu jalan-jalan

            Berdua jalan kaki saat turun hujan

            Memori daun pisang takkan terlupakan

            Memori daun pisang menjadi kenangan

            Kira-kira seperti itu lirik lagunya. Entahlah mengapa Ibu sering memutar lagu itu. Barangkali suka, atau bisa saja ada sedikit kenangan. Hujan-hujan berlarian berdua. Mirip video clip lagu-lagu india. Dan ketika aku dihadapkan dengan situasi seperti ini, aku hanya bisa berbisik kecil di dalam dada: sungguh aku bahagia. Itu saja. Bajuku sudah terlampau basah. Dingin pun terasa begitu menjadi. Kuperhatikan wajah Anin yang menggigil. Dia juga sama. Sama-sama merasakan basah dan dingin. Dan kita bernaung sebentar di sebuah warung pinggir jalan.

            “Keinginanmu sudah terkabul, An.”

            “Hehe iya Fer. Tapi kok dingin banget yaa. Aku juga lupa bawa payung tadi. Jadi basah semua ini bajuku. Duh.”

            “Sebentar sebentar. Kok malah berbanding terbalik ini. Katanya kamu suka mandi hujan? Ah sepertinya sekarang yang penakut itu kamu. Eh. Haha.”

            “Loh bukan gitu Fer. Awas kamu ya.”

            Anin menarik tanganku. Kembali kita bermandikan hujan. Senyumku membaur bersama rintik hujan. Dan Anin tertawa, tersenyum, menatapku dengan kedinginan. Begitu tajam hujan yang menyetubuhi kita. Dan bersama hujan pula aku dan Anin terbawa sampai ke rumahnya. Dia masuk dan mengambilkanku sebuah payung. Warnanya hitam.

            “Ini bawa dulu Fer. Kamu kan takut hujan. Hehe”

            “Oh iya, terima kasih sudah basah-basahan dan nganterin aku sampe rumah.”

            Senyum saat berpisah itu yang membuatku selalu ingin kembali memandang wajahnya. Dan garis di bibirnya itu yang membuatku semakin tidak waras setiap harinya.

            Untung saja kontrakanku tidak terlalu jauh dengan rumah Anin. Hanya dipisahkan oleh dua persimpangan jalan. Dan kontrakanku berada tepat di belakang kosku yang lama. Di perumahan ini memang tempatnya mahasiswa perantau. Sebuah perumahan yang jaraknya begitu dekat dengan kampus membuat masyarakat sekitar memaksimalkan peluang dan menuai keuntungan. Aku merasa nyaman berada di tempat tinggal yang baru ini, walaupun hanya berkamar dua. Sebuah kebersamaan yang baru pula karena diharuskan untuk berbagi tempat tidur dengan kawan lainnya. Pada mulanya aku tidak percaya bakal bertemu dengan kawan yang cocok denganku. Sama-sama dari latar belakang yang serupa. Tidak menyukai sebuah kenyamanan. Dan aku sangat bersyukur karena Tuhan begitu mengerti apa yang diinginkan oleh karya-NYA. Sudah petang. Senja sudah hilang. Hujan pun sudah hilang. Kubilas tubuhku. Kubilas semua sisa air hujan yang membasahiku. Juga wajah Anin yang terus saja membekas di pelipis mata. Aku hanya ingin melupakannya, semalam saja.

            Setiap peristiwa pasti akan melahirkan akibat. Dan manusia adalah pelakon dari terciptanya sebab—akibat. Begitu pula dengan peristiwa yang sedang kualami dengan Anin. Mulanya tak sedikitpun terbesit di kening bahwa perasaan lama dapat menjadi sebuah peristiwa yang baru. Sebuah peristiwa yang memaksaku untuk lebih berpikir secara rasional. Sebab dengan kedekatan ini pula kita akan berujung pada sebuah akibat. Dan sebuah akibat adalah nyata keberadaannya.

            Bila dibandingkan dengan perempuan-perempuan lain yang selama ini sudah kukenal di kota ini. Anin masih tetap yang kupilih. Pilihan yang berarti: paling kupertimbangkan. Dan yang jelas terpilih karena statusnya yang lebih dulu kukenal. Sebuah alasan yang cukup rumit memang. Dan jika dikembalikan pada serangkaian peristiwa yang sudah kualami dahulu dengannya, tidak masuk akal jika aku kembali dekat dengannya. Kedekatan yang menurutku sulit untuk dijelaskan. Terlampau rumit untuk diutarakan. Namun yang jelas, ada sebuah tanda tanya dari sebuah peristiwa yang sudah-sudah. Tentu saja perihal kedekatanku dengan Anin semenjak dia pindah ke sini dan tiba-tiba juga satu kampus denganku. Dan pertanyaannya begitu sederhana. Mengapa dia sudi untuk kembali dekat denganku? Semua belum selesai. Masih ada sedikit rahasia yang belum kuketahui. Dan jika dengan merobek-robek kerudungnya aku dapat mengetahui semuanya, sudah pasti akan kulakukan. Sebelumnya sudah kutanyakan perihal kedekatan ini. Dengan jelas dia berkata: Sudah kita jalani saja terlebih dahulu. Toh kita sudah sama-sama dewasa. Dan aku pun mulai berpikiran sama dengannya. Berangkat dari sana kita mulai sedikit memahami, bahwa menyatukan perasaan tak perlu tergesa-gesa. Waktu yang cepat tidak akan menghasilkan proses yang baik. Dan sebuah proses harus benar-benar matang untuk hasil yang matang pula. Pada akhirnya kita sepakat untuk patuh terhadap proses.

***

            Setahun yang lalu, aku masuk dalam organisasi kampus yang bernama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Tidak ada niat apa-apa. Hanya sekadar ingin menyelami dunia literasi. Sekadar ingin memperjelas kesenanganku dalam perihal menulis. Itu saja. Lain tidak. Selama berada di sana, mulanya aku tidak mengetahui bahwa menulis mempunyai dasar. Dasar menulis? Sungguh aku tidak pernah mendengar sebelumnya. Maklum, karena pada awalnya aku hanya mengenal sebuah tulisan dari warung-warung kopi saja. Bermula dari ketidaktahuanku, ada yang sedikit mengganjal. Mengenai aturan-aturan menulis dan semacamnya. Kukira, menulis adalah sebuah kebebasan. Tapi ternyata aku salah besar.

            Di sana aku banyak belajar. Dan tentu saja perlahan-lahan aku mulai meninggalkan ketidaktahuan itu. Perlahan-lahan juga aku dapat memahami arti  dari sebuah tulisan. Dan itu semua berdampak pada sikap dan perilaku. Seperti yang sudah dikatakan oleh Anin bahwa aku berbeda dengan aku yang dulu. Memang semua yang sudah kita lakukan, itu pasti ada efeknya. Tergantung seperti apa yang sudah kita dilakukan.

            Sampai saat ini aku masih menyibukkan diri di sana. Setiap organisasi di kampus pasti mempunyai kegiatannya masing-masing. Dan Karena aku sudah menjadi pengurus di sana, maka aku mempunyai hak suara dalam membuat sebuah kegiatan. Kegiatan ini kuberi nama: Lintas Literasi. Sebuah kegiatan yang melibatkan semua anggota. Dan dari kegiatan ini pula semua dapat menyalurkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tidak ada aturan yang mengikat. Mulanya, pengurus lain tidak menyepakati kegiatan ini. Tetapi kujelaskan kepada mereka. Terkadang saat menulis, kita perlu sebuah kebebasan. Karena aku tahu, bahwa setiap orang berhak berpendapat. Aturan dalam menulis hanya bertujuan untuk memperindah pada bagian luarnya saja. Dan kebebasan saat menulis akan memperkuat makna dari tulisan tersebut. Kukatakan pada mereka, bahwa yang terpenting adalah proses. Bukan hasil. Pada mulanya aku tidak percaya bahwa aku dapat melawan sebuah aturan.

            Saat itu sabtu sore. Seperti biasa, setiap hari sabtu akan diadakan Lintas Literasi. Sore itu, setelah selesai menjalankan kegiatan, kusempatkan ke warung kopi dekat kampus untuk menghabiskan sisa kopi yang sudah kupesan siangnya. Aku kaget ketika melihat Anin juga berada di sana. Anin tidak sedang sendirian. Ada dua orang laki-laki sedang berbicara dengannya. Anin tidak melihatku, karena dia duduk membelakangi pintu warung. Namun aku yang berjalan dari pinggir kanan warung, sedikit melihat wajah sampingnya dari jendela warung yang terbuka. Aku masuk. Duduk tepat di belakang Anin. Mengambil koran dan membacanya. Sengaja aku tidak menyapa dan berpura-pura tidak tahu jika dia menanyakan kenapa aku tidak menyapanya. Hari itu aku seperti halnya cecunguk. Benar-benar memanfaatkan fungsi telinga. Dan aku mendengarkan percakapan mereka secara sengaja. Dari percakapan itu pula aku baru mengerti bahwa dua orang yang bersama Anin itu adalah seorang wartawan. Dan ternyata, ayah Anin adalah salah satu dari mereka. Mulanya aku tidak percaya.

            “Loh Fery?” Tiba-tiba Anin menoleh.

            “Eh kamu, An. Kukira siapa.”

            “Ngapain kamu disini? Lanjutku.

          “Tadi aku dari kampus. Minta tanda tangan dosen untuk memenuhi syarat mengikuti ujian susulan. Dan kebetulan saat aku lewat sini, aku melihat teman ayah ini.”

            “Kamu sendiri ngapain di sini Fer?”

       “Oalah. Aku baru selesai dari kegiatan kampus An. Tadi aku sudah dari sini sebenernya. Dan aku ke sini lagi cuma berniat untuk ngabisin kopiku. Hehe.”

            “Emang kegiatan apa Fer? Kegiatan di LMP ta?”

            “Lah itu kamu sudah tau. Jadi aku kan gak perlu repot-repot menjelaskan. Hehe.”

            “Ah kamu ini ya. Nyebelin.”

            “LPM itu Lembaga Pers Mahasiswa ya mas?” Tiba-tiba salah satu dari wartawan itu bertanya kepadaku.

            “Oh iya mas.” Kujawab dengan jawaban yang paling sederhana.

            “Emang ada acara apa mas?” Dia kembali bertanya.

            “Hanya kegiatan tulis-menulis mas.”

            “Oalah bagus itu. Tulis-menulis yang seperti apa?”

            “Membiasakan menulis dengan kebebasan berimajinasi mas.”

            “Loh saya baru tau kalau menulis itu bisa bebas. Ini menarik. Soalnya yang saya tau, menulis itu ada aturannya. Dan tidak bisa menulis dengan bebas begitu saja.”

        “Bukankah sastra mengajarkan tentang kebebasan menulis mas?” Aku memberanikan diri untuk sedikit melawan.

            “Ya tapi kamu sedang berada di lingkungan LPM. Dan di sana kamu diajarkan tentang aturan-aturan dasar jurnalistik. Saya tahu, karena dulu saya juga alumni LPM.”

            “Sebelumnya saya minta maaf mas. Saya bergabung dengan LPM ini hanya sebatas menyalurkan kesenangan saya dalam perihal menulis. Namun saya tidak tertarik dalam dunia jurnalistik.”

            “Saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan dunia sastra. Karena sastra menawarkan keindahan dan kebebasan dalam menulis. Dan sastra adalah seni menulis untuk dibaca lebih dari satu kali. Sedangkan jurnalistik hanya satu kali.” Lanjutku semakin tegas.

            “Fery ini suka nulis mas. Iya kan Fer?” Anin menyambar begitu saja.

            “Aku masih belajar kok An.”

            “Tunggu dulu. Tunggu dulu. Temanmu ini punya jiwa sastra ternyata. Boleh kami mewawancaraimu mas?” Kembali wartawan itu bertanya. Kali ini dengan nada yang sedikit emosi.

            “Sekali lagi maaf mas. Saya rasa mulai dari tadi anda sudah melakukan yang namanya wawancara. Dan kepentingan saya di sini hanya sebatas ingin menghabiskan kopi. Anda lihat sendiri, kopi saya sudah habis. Dan saya harus pulang.” Aku berdiri dan mengambil tas. Kuberi mereka sedikit senyuman.

            “Saya pamit duluan mas.”

            “Aku duluan An.”

Anin hanya tersenyum kepadaku. Dan senyuman itu kuanggap sebagai sebuah pengertian dari sikapku yang sedikit menyombongkan diri. Sialan. Aku baru paham bahwa seorang wartawan dapat memancing keluarnya sebuah emosi. Untung saja aku masih bisa mengalihkan emosiku sebagai sebuah perlawanan. Cukup untuk membuat mereka juga sedikit emosi kepadaku. Dan itu harus kulakukan untuk membela diri. Kadang bersikap sombong itu perlu. Sombong yang sifatnya halus tetapi menggugat, itulah yang dinamakan sastra.

***

NB: Ini adalah salah satu bagian dari Novel yang tengah saya susun. Terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya. Dan terima kasih pula kepada WordPress, karena selama dua belas purnama ini telah memberikan ruang untuk menulis. Harapan saya sederhana, semoga saya tetap istiqomah dalam perihal menulis.

Jember, Desember 2016

Sajak Tentang Emosi

xtusu4dgbbt

Aku ingin menulis sajak, sedikit saja
Karena sunyi ini hampir membunuh doaku
Aku ingin menulis doa, sepenggal saja
Karena pekat ini hampir menampar wajahmu

Kamu percaya,
Masih banyak tempat lain yang lebih indah dari taman, bukan?
Aku ingin mengajakmu ke sana
Seperti pelabuhan, yang tak mengajarkan bunga bermekaran
Aku ingin sekadar belajar melempar sauh di sana

Karena kita pelabuhan, kataku
Tempat di mana semua datang dan pergi
Dan karena kita pintu yang terbuka, kataku
Ambang di mana semua bisa lewat tanpa permisi

Tapi kita manusia, akhirnya
Berhak memilih tempat apa pun yang ia sukai
Berhak memilih tempat mana pun untuk menaruh bunga
Juga melempar sauh

Tapi sajak ini bukan untukmu, juga bukan untuk siapa
Karena aku menulis dengan gelisah, emosi membuncah di mana-mana
Ini untukku, kataku!
Karena aku sudah memilih sebuah tempat
Di dalam dadamu, itu saja!

 

Jember, Desember 2016

Untuk Bunga

img_20161204_203451

Untuk Bunga, yang sedang rebah di pembaringan
Detak jarum jam terus memutar dirinya sendiri
Terus mengulang dirinya sendiri
Sekehendaknya mengatur keberangkatan dan kepulangan

Lalu aku, lelaki yang di balur kekalutan
Sedang mengeja namamu di pengujung malam
Berbisik di sela-sela telinga kirimu:
“Tetaplah tersenyum, maka masalah terselesaikan”

Untuk Bunga, yang sedang menyiram kelopaknya
Aku menulis ini dengan resah dan gelisah
Begitu dingin, sunyi, dan menggigil
Tak ada sepotong jantung dari puisi ini

Hanya sebagian dari ungkapan kecil
Di hari kelahiranmu
Selamat ulang tahun, itu saja!
Dari aku, penikmat senyummu

Jember, 10 Desember 2016

Bunga Untuk Ibu

15079053_157858614684699_9052934967563600464_n

Ibu, begitu aku memanggilmu
Ibu, hadir atas nama cinta
Dari sebuah karya Tuhan yang disebut seorang hawa

Takdir menjadikan aku sebagai anak
Dan Ibu, begitu pula sebaliknya
Tidak ada yang minta untuk dilahirkan

Aku begitu lancang dengan sajak yang ku tulis
Dengan semua peristiwa yang telah hadir di depan matamu
Semua tidak sebanding, tidak sedikit pun menyerupai
Ketika sembilan purnama aku menumpang dalam perutmu

Sudah terlampau banyak dosa yang terhimpun
Menumpuk dan terus berkelanjutan
Namun senyum tetap terlukis di wajahmu
Begitu tabah hati seorang Ibu
Begitu tipis jiwa seorang yang melukai

Senja jatuh di kota ini
Membawa kabar perihal kelahiran
Apa kabar hari ini, Ibu?
Sebuah tanda tanya hadir di sela-sela kesibukan
Dari seorang anak yang sedang jauh dari jarak pandang

Ibu, selamat ulang tahun
Dan sekali lagi, aku rindu menjadi anakmu

November, 2016

Di Sebuah Bangku Penumpang

-Saya menulis ini ketika sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.

Hari ini tidak sedang hujan. Mendung pun tidak. Panas, penuh dengan keringat. Lusuh, ingin membilas tubuh. Di balik punggung sopir saya duduki bangku penumpang. Sangat menyenangkan ketika berada di dekat jendela. Dari balik jendela pula saya dapat melihat ke luar. Batas pandangan rabun ketika pening hadir di sela-sela sesak penumpang. Ramai. Terlampau ramai hari ini. Namun saya mencoba untuk tetap menulis dalam keramaian yang begitu menjadi.

Di luar, jalanan penuh dengan orang pinggiran. Tentu dengan nasibnya masing-masing. Mereka seperti membisik secara perlahan.

“jalanan ini selalu menjadi batas dari Jember dan Situbondo. Musim hujan atau kemarau sama saja. Tidak bisa mengubah nasib manusia”

Ini semacam kota kecil yang di sebut desa. Dan saya tidak lebih hanyalah sebatas pengunjung. Cukup banyak yang saya alami di sini. Begitu banyak yang saya lihat kemarin dan hari ini. Baik dan buruk. Semua terlihat jelas dengan kedua mata. Sungguh saya benar-benar merasa bersyukur dapat melihat dunia manusia, bumi manusia. Tiba-tiba saya teringat sedikit kisah. Seorang gadis kecil yang menyandang gelar tunanetra. Ia tidak dapat melihat sejak saat ia dilahirkan.  Sampai usianya menginjak 14 tahun, sang Ayah mengajak ia keluar kota. Sang Ayah menjanjikan sebuah pemandangan yang indah selepas dari kota. Sesaat setelah mereka mengunjungi kota, gadis kecil itu melihat keluar dari jendela kereta.

“ayah benar, lihat awan itu, begitu indah”

“ayah, ayah, lihat hewan-hewan itu. mereka mengikuti kita”

“ayah, lihat juga matahari itu, terasa silau jika aku memandangnya”

“pohon-pohon berbaris melewati kita, lalu satu demi satu hilang”

“aku sangat gembira, ini pemandangan yang luar biasa. terima kasih ayah, karena sudah mengajak aku melihat dunia luar”

Suara gadis itu menggema ke seluruh ruangan. Sontak menjadi pusat perhatian bagi para penumpang. Ibu-ibu, salah satu penumpang, menegur sang ayah.

“maaf sebelumnya, bisa anda menyuruh putri anda ini untuk diam? karena anak saya sedang tidur”

“sudi kah ibu memberi kesempatan kepada putri saya untuk sekadar berteriak bebas saat ini saja?”

“sebenarnya ada apa dengan putri anda?”

“tidak ada apa-apa”

“sebaiknya anda bawa putri anda ini ke rumah sakit, sepertinya ia sedang mengalami sesuatu yang buruk, atau mungkin saja ia sudah tidak waras”

“kami baru saja dari kota dan mengunjungi rumah sakit”

“ia baru saja mengalami hal paling mengerikan ketika berada di ruang operasi”

“dan beginilah, ia menjadi tidak waras ketika Tuhan telah mengembalikan kedua matanya”

Gadis kecil itu mempunyai banyak angan dan harapan. Salah satunya adalah ingin melihat. Dan ia hanya percaya satu hal. Bahwa suatu hari nanti ia pasti akan sembuh. Sebuah optimisme yang jarang ditemukan dalam diri manusia hanya karena dikalahkan oleh keadaan.

Kampung halaman sudah dekat. Seniman jalanan hadir di tengah-tengah penumpang. Lamunan pecah begitu saja ketika ia menyanyikan lagu Chrisye – Kisah Kasih di Sekolah. Entahlah, tiba-tiba saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini.

18 November 2016

Pagi dan Bunga

sketsa-bunga-mawar-yang-cantik

Ku sebut kau Bunga
Dalam kisah yang ditulis sendiri sang Tuan
Dingin, sunyi dan menggigil
Sedikit peristiwa lampau masuk diam-diam
Melewati jendela kamar yang lupa ditutup semalam

Malam sudah terlampau remang lalu basah
Embun menjelma kelahiran lain
Kelopak Bunga sudah lama terpejam
Diam-diam mengintip karya surga dari mata seorang hawa

Bulu pena sang Tuan terlihat begitu runcing
Mengadu bersama kelopak jingga yang membunga
Lalu malaikat kecil hadir di pojok ruangan
Membuka buku usang, berdebu dan lusuh

Empat tahun lalu
Di sebuah  lokalisasi pendidikan, aku mengenal sebuah nama
Bunga, mengenakan pita merah muda
Di balik derai teduh sebuah becak
Menyapa Pagi dengan bibir yang sedikit basah

Pagi terus berangan dalam malam
Karam bersama kebodohan dan keinginan
Untuk memiliki Bunga sekali lagi

November, 2016