Senantiasa

-puisi ini teruntuk kita yang senantiasa ditinggalkan, dan untuk sekadar memenuhi permintaan seorang kawan Ini tentang makhluk yang disebut waktu Sudah sewajarnya kita menanyakan keberadaannya Begitu tengik, sekehendaknya mengatur keberangkatan dan kepulangan Sedang kamu masih berdiri diantara keduanya Menggenggam sebuah payung Menengadah, berharap hujan itu tak membasahi pipimu Ini tentang kita yang senantiasa ditinggalkan Juga... Continue Reading →

Iklan

Geming (1)

-Sebuah fiksi Aku mengenalmu sesaat ketika kuliah itu juga baru ku kenal. Kita berada di kampus yang sama -lebih tepatnya satu jurusan.¬† Aku tak percaya kita dipertemukan di kota yang melulu biru ini, dan aku gembira¬† walau hanya sebatas mengenal nama. Aku masih ingat saat pertama kali berjabat tangan denganmu. Namamu Rissa, namun aku biasa... Continue Reading →

Otak Pinggiran dan Wadahnya yang Lucu

Agaknya ini adalah sepotong kenyataan yang bisa terbilang tidak nampak. Pinggir jalan yang dipenuhi sampah-sampah berserakan. Baunya indah, seperti seni rupa. Namun saat hidung ini menghirup, ada yang ganjil disana. Semacam bau bangkai manusia terhormat. Memang asalnya bukan dari sana. Tetapi arwahnya selalu mengitari setiap sudut jalanan. Hanya saja pantatnya yang terus melekat pada kursi... Continue Reading →

Pada Sebuah Subuh

Semenjak kesadaran itu lahir, aku telah dijauhkan oleh sosok hawa. Entahlah. Agaknya ini terasa ganjal bagi laki seperti aku. Aku tidak sedang bercerita atau pun mengungkap sebuah kebenaran. Tidak. Hanya sedikit menerawang pada kenyataan bahwa aku berubah menggunakan proses. Bukan signifikan. Berangkat dari kegelisahan dan tak kunjung menemui ujungnya. Sebab di depan masih gelap dan... Continue Reading →

Wanita Malam di Sebuah Pelabuhan

-puisi ini saya tulis saat teringat seseorang di waktu silam, yang jelas dia perempuan Tepi pantai bau amis menyelimuti keberangkatan sebuah kapal Tangan kuningmu melambai, pandanganmu mengerucut tajam pada angin malam dan kabut yang melumat habis tubuh kapal itu Sebuah keberangkatan yang pucat kau saksikan Lalu kau duduki pasir yang sama pucatnya Dan aku, lelaki... Continue Reading →

Saudara Kembar: Lama dan Baru

Ada saatnya ku rindukan kalian, sahabat lama Canda, tawa, cinta dan tangis Terangkum dalam sebuah cerita yang nantinya akan menjadi sepotong sejarah Ku tak pernah membedakan antara lama dengan baru Kalian yang tercatat baru, berlayar dengan sebuah kapal membawa semua tentang baru Dan tibalah, mencumbu daratan. Duh, tak pernah kutanyakan mengapa melulu tentang baru itu... Continue Reading →

Rindu yang Kaku

Awalnya, seorang kawan menghubungi saya dan mengajak untuk buka puasa bersama kawan-kawan lainnya. Ini kawan lama semasa SMA dahulu. Kebetulan, pikir saya. Lama sudah tak jumpa dengan mereka. Langsung saja saya mengiyakan ajakannya. Tak menutup diri, memang benar saya rindu mereka. Ah tapi saya masih gengsi untuk mengatakan rindu. Rindu bukan pada orangnya, melainkan pada... Continue Reading →

00:22

-Sebuah kegagalan bagi saya ketika tidak menuliskan sesuatu selama hidup ini. Setidaknya akan menjadi indah ketika membacanya kembali. Minimal saya tidak akan tertawa akan hal itu. Juni, 2016

Namamu Hujan, Namaku Kopi

-puisi ini saya tulis ketika kota saya: Situbondo, sedang menangis Setelah awan menjadi kelabu Kau turun menapaki sisi langit Kau menyibak rambutnya, membelainya Tapi kau bukan Bidadari Saat kau menyentuh daratan Kau peluk hawa panas Kau tunduk padanya, seakan dia rajamu Tapi kau bukan Permaisuri Kau membawa dingin Membawa ketenangan atas kegelisahan Bercampur aduk dengan... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑