Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat. Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun, ia juga lupa denganmu. Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi, kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir. Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan. Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar... Continue Reading →

Iklan

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu. Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding. Sekali lagi, mereka bertanya: "Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?" Sajak memang kawan kita, akhirnya. Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin. Tapi, siapa yang tahu? Tak ada. Sajakmu, sajakku, lahir kembali. Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam. Tapi, tak ada yang hilang, kataku. Mereka bertanya, ada apa sebenarnya? Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku. Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan. Sajakmu, sajakku, telah mati di sana. Jember, Februari 2017

Kadang, Tak Ada yang Membaca

Ada daun menjadi kering terkena hujan. Ada manusia sedang membasuh nasibnya, pada sungai yang mengalir doa. Di hadapannya, makhluk bersayap hitam berdiri tegap. Ia mengambil beberapa bayi, lalu terbang. Di sini masih mendung, masih saja seperti kemarin. Barangkali, langit sedang bermain dengan dingin, seakan tak ingin membuang hujan lagi. Bisikan kecil tiba-tiba menampar telinga: "Katakan... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑