Tentang Kota yang Kesepian (Dimuat di Cendana News edisi 9 Desember 2017)

ilustrasi-cerpen-tentang-kota-yg-kesepian-1

            Suatu saat nanti, entah kapan,

            Saya percaya, kota ini akan bergerak.

            Menemui nasib yang lebih baik.

            Sebab waktu, ia tidak pernah diam.

            Langit sudah cerah, ketika Sahir pulang, pukul 5 pagi. Tapi udara masih dingin. Ia sedang memeluk seorang anak laki-laki yang mengenakan baju compang-camping, mungkin usia 12 tahun. Di bawah jembatan tua itu, Sahir seperti menjadi seorang ayah bagi anak yang dipeluknya itu. Selama angin tetap berembus, ia tahu bahwa nasib anak itu masih dapat diubah. Bahwa–mungkin–anak itu yang akan mengubah nasib kota ini. Maka ia menatap lama mata anak itu. Dengan suara yang agak berat, Sahir menawarkan sesuatu untuk dimakan. Sebungkus nasi yang mungkin didapatnya tiga hari yang lalu, dari tong sampah restoran kota. Bagi Sahir, bersyukur bukanlah sebuah pilihan, sebab baginya, tidak ada pilihan lain selain bersyukur.

           “Makanlah, Nak.”

           Anak itu hanya mengangguk.

           Di samping jembatan tua itu, terdapat sebuah rel tua yang sudah lama tak dilewati kereta. Barangkali tak akan pernah lagi dilewati. Di bawahnya, ada sungai yang sedikit kering, dengan embusan abu di permukaannya. Tidak ada angsa-angsa yang berkeliaran. Hanya air yang kumuh, bau dan busuk. Bahkan ikan-ikan pun pergi, entah ke mana. Tapi kenangan, ia akan selalu tumbuh di dalam ingatan seseorang yang pernah tinggal di sana, di kota itu. Atau di bawah jembatan tua itu.

          Kadang manusia selalu bercanda untuk membikin semesta. Ingin menguasai dunia dengan hanya menggunakan satu tangan. Mungkin masih dapat dipercaya. Mungkin juga masih dapat diterima. Tapi kadang manusia lupa, bahwa ia hanya sebagian dari semesta.

            Sahir membaca apa yang ia tulis kemarin pagi. Tanpa bersuara. Lalu ia tinggalkan anak itu. Ia bawa bukunya, dan duduk pada sebuah batu di pinggir sungai. Dan ia mulai menulis kembali.

        Pagi ini saya ingin mengenang sesuatu. Tentang sebuah kota yang saya anggap sebagai kota kelahiran. Dimulai sejak 25 tahun yang lalu, ketika usia saya masih berkepala tiga, dan sebelum kota ini menjadi kesepian.

            Saat itu saya sempat merasa kecewa dengan orang-orang yang tinggal di sana, di pusat kota. Adakah salah satu dari mereka yang mengenal saya? Ya. Saya rasa tak ada. Pernah saya berjalan menyusuri aliran sungai ini. Tapi saya tak menemukan ujungnya. Akhirnya, saya pun kembali ke tempat ini, di bawah jembatan tua ini. Pernah saya pergi ke pusat kota, untuk menuliskan nama saya di dinding yang begitu kokoh. Setelah itu saya berkeliling untuk sekadar melihat bunga-bunga yang berada di tengah taman. Saya ingin petik satu yang berwarna merah. Tapi saya tak tahu namanya, atau umurnya. Yang saya tahu, bunga itu berduri. Ada seorang gadis kecil sedang duduk di bangku taman. Kakinya berayun-ayun. Rambutnya terurai. Sejenak ia berdiri dan duduk lagi. Saya hanya memandangnya dari kejauhan. Di ujung taman, ibunya berjalan ke arahnya. Tapi saya hanya menduga. Karena di saat seperti itu saya akan mengingat keluarga, keluarga saya yang entah sedang berada di mana. Buru-buru saya usir kenangan itu dan mencoba untuk duduk pada rumput yang masih basah. Saya pandangi setiap gerak-gerik kaki yang lewat. Saya tak berani untuk menengadah. Saya hanya berani menoleh ke arah samping kanan. Gadis kecil itu ternyata sudah pergi. Mungkin lima menit yang lalu. Dan saya mencoba berdiri. Mencoba untuk kembali ke pusat kota. Untuk sekadar melihat kembali nama saya, di dinding itu. Karena saya hanya seorang gelandangan yang menginginkan hidup layak.

          Sepuluh tahun kemudian. Keadaan berubah drastis. Manusia dengan mudah membuat robot-robot pintar yang mungkin bertujuan untuk memudahkan kegiatan manusia. Di pusat kota, di persimpangan jalan, terlihat beberapa robot berdiri tegap sedang membantu polisi menertibkan lalu lintas. Di taman kota, ada sepasang robot mirip mesin fotokopi sedang membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Koran-koran sudah tidak diterbitkan lagi. Tentang segala berita dari penjuru dunia sudah dapat kita temukan di kaca-kaca gedung atau kaca-kaca rumah. Atau kaca-kaca mobil. Semua yang berbentuk kaca dapat kita sentuh dan secara langsung akan mengeluarkan gambar. Semua dapat ditelusuri dengan mudah. Bahkah handpone pintar sudah tidak berguna lagi. Ada sebagian yang dibikin sebagai gantungan kunci. Ada pula yang digunakan sebagai mainan anak-anak. Saya sempat untuk berkunjung kembali ke pusat kota, untuk mengembalikan ingatan tentang keluarga. Perlahan-lahan di taman sudah tak dapat ditemui lagi orang-orang berkeliaran. Atau anak-anak yang bermain. Atau gadis kecil itu. Saya menangis sepanjang jalan pulang.

            Lima tahun kemudian. Pada sebuah senja yang ramah, seperti biasa, saya masih sibuk mencari ikan di sungai. Tentu untuk hidangan makan malam. Ketika kaki saya mulai menyelam, tiba-tiba saya mendengar dentuman yang begitu keras. Di ujung timur terlihat sebuah roket meluncur ke langit dengan cepat. Dan sepuluh detik kemudian, roket itu mendarat sangat cepat ke permukaan, mungkin di pusat kota. Roket itu tidak meledak, tapi beberapa detik kemudian, radiasi pun terjadi. Bunyi lengkingan yang sangat kuat hampir merusak pendengaran saya. Saya terkena sisa radiasi. Angin yang begitu kencang membuat sungai seperti ingin meluap. Dan saya terjatuh ke dalam air, terbawa arus hingga menepi. Kemudian saya berdiri, dan melihat kota sudah dipenuhi kabut tebal. Kabut tebal itu menyebar sampai ke hadapan saya. Saya tak melihat apa-apa, dan tiba-tiba saja saya jatuh pingsan.

            Ketika saya bangun, sungai di hadapan saya sudah menyusut. Kota terlihat hancur. Bangunan-bangunan tinggi itu terlihat retak. Mirip kota yang telah mati. Tapi saya melihat bangunan baru yang tinggi dan berbentuk lonjong. Warnanya putih dan mengilat. Mungkin terbuat dari kaca. Dan saya mendengar jeritan orang-orang yang ketakutan. Desing peluru juga terdengar sangat jelas. Saya kira ini adalah perang. Apakah robot-robot itu menyerang manusia? Atau sebaliknya? Saya masih belum tahu. Buru-buru saya pergi ke pusat kota. Berlari dan terus berlari. Saya sampai di taman. Taman itu telah hancur. Tidak terlihat orang-orang berkeliaran. Kemudian saya berlari ke pusat kota. Ketika saya sampai, saya melihat begitu banyak robot sedang memegang senjata, mungkin senapan atau semacamnya. mereka sedang menggiring orang-orang untuk masuk ke dalam gedung bulat lonjong itu. Buru-buru saya sembunyi di balik gedung yang telah retak. Beruntung robot-robot itu tidak melihat saya. Saya hanya berpikir ada apa sebenarnya.

            Lamunan saya pecah, ketika suara di belakang saya menyuruh saya untuk segera pergi secepatnya. Saya menoleh, terlihat seorang pria sedang memegang perutnya yang berdarah. Wajah dan tangannya lebam dan berdarah. Pergilah sebelum kau ditangkap oleh robot-robot itu, katanya. Saya merangkul bahunya. Membantunya untuk duduk. Saya ingin bertanya sesuatu, tetapi ia sudah tidak bernapas. Dan akhirnya saya memutuskan untuk pergi, kembali ke jembatan tua ini.

            Beberapa hari kemudian, saya mencoba untuk kembali ke pusat kota. Saya tidak bisa berdiam diri. Sebab, bagaimanapun sikap dari orang-orangnya, saya masih tetap adalah bagian dari kota ini. Tapi saya kebingungan hendak berbuat apa, tapi saya ingin tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi. Maka saya hanya bisa berlari. Berlari dan berlari. Saya kaget ketika saya melihat orang-orang dan robot-robot itu saling bertegur sapa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Salah satu robot menghampiri saya dan memberi saya selembar baju. Robot itu mengajak saya untuk masuk ke dalam gedung bulat lonjong itu. Tapi saya diam. Saya melamun cukup lama. Melamun dan terus melamun. Dalam benak saya, saya terus berpikir. Mengapa robot-robot itu terlihat ramah. Padahal sebelumnya telah terjadi peperangan, bahkan robot-robot itu sempat melukai orang-orang. Tapi mengapa keadaan menjadi terbalik seperti ini? Saya memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan siapa pun. Dan akhirnya robot itu pun meninggalkan saya. Saya tinggalkan selembar baju itu di dekat pohon. Saya kembali pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepala.

            Sebab saya berpikir menggunakan logika, bahwa itu semua adalah candaan. Bahwa robot-robot itu telah memanfaatkan manusia. Sebab, jika memang robot-robot itu benar-benar ramah, mereka tidak akan pernah membuat kota ini menjadi hancur. Dan saya pun memilih untuk tetap menjadi seorang gelandangan.

            Dan sampai saat ini orang-orang hidup damai dengan robot-robot itu. Tapi kota tetap hancur. Tetap berdebu. Walaupun keadaan sudah damai, tapi bagi saya, kota ini tetap menjadi kota yang kesepian. Dan saya masih berharap kepada waktu, juga kepada anak itu. Saya percaya, anak-anak muda yang akan mengubah kota ini, menjadi lebih baik.

              “Paman sedang apa?”

              Sahir menoleh kaget, dan menyuruh anak itu untuk duduk di sampingnya.

              “Duduklah, Nak.”

              “Paman akan bercerita tentang sebuah peristiwa sebelum kota ini kesepian.”

              Anak itu hanya mengangguk, kemudian duduk di sampingnya.

             “Coba kamu lihat gedung-gedung tinggi yang berjajar di seberang sana. 25 tahun yang lalu, orang-orang sibuk membangunnya. Tapi sekarang, kamu pasti bisa menilai bagaimana bentuknya. Ya, benar. Sangat berantakan.”

            “Dan coba perhatikan bangunan aneh di sampingnya.” Sahir menunjuk bangunan yang berbentuk bulat lonjong, yang sekelilingnya di penuhi kaca tebal. “Sangat jauh berbeda, bukan?”

         “Dahulu, orang-orang di kota ini hidup dengan bahagia. Pusat kota yang begitu indah dengan taman-taman yang tersusun rapi. Orang-orang berjalan sesuai keinginannya. Ada yang berjalan-jalan dengan keluarganya. Ada pula yang berjalan sendirian. Kadang juga terlihat anak-anak yang bermain. Berlari-larian. Atau penjual koran yang sering terlihat di sudut taman. Pepohonan tumbuh bebas di taman itu. Juga bunga-bunga. Burung-burung terbang begitu rendah. Kadang ada yang terlihat bermain dengan dedaunan. Ada sebuah air mancur di tengah-tengah taman. Ikan-ikan di kolam berenang dengan gembira. Kadang ada seseorang yang terlihat memberi makan ikan. Kadang ada seorang anak kecil yang menceburkan tangannya ke dalam kolam. Bisa kamu bayangkan betapa damai suasana pada saat itu, bukan?”

             “Bukankah suasana saat ini masih seperti itu, Paman?” tukas anak itu.

         “Ya, sangat benar. Tapi kamu belum mengetahui, apa yang sebenarnya telah terjadi.”

             “Lalu, apa yang sebenarnya telah terjadi pada kota ini, Paman?”

            “Semua berawal karena peperangan.”

            “Perang yang seperti apa, Paman?”

            Sahir sejenak terdiam. Ia membenarkan cara duduknya.

            “Perang antara manusia dan makhluk besi.”

          “Makhluk besi yang Paman maksud itu … apakah robot-robot yang saat ini hidup berdampingan dengan manusia?”

         “Ya, benar. Satu hal yang harus kamu tahu sekarang, robot-robot itu hanya berpura-pura bersikap baik kepada manusia. Dan mereka akan lebih berpura-pura bersikap baik lagi kepada anak-anak sepertimu.”

           “Kenapa begitu, Paman?”

           “Memang begitu kenyataannya. Kita sedang dijajah, Nak.”

           Lengang.

          “Ketahuilah, mereka sedang menjajah pemikiran anak-anak muda sepertimu. Dan kalian, anak-anak muda yang harus melawan!”

           “Tapi Paman juga harus tahu satu hal.”

           Sahir menoleh, menatap anak itu.

           “Saya diciptakan sebagai robot.”

        Lengang. Abu-abu halus tetap berembus di permukaan sungai. Matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka. Pukul 8 Pagi, di tahun 2080. (*)

Jember, 07 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: