Buku Kumpulan Cerpen: Romila dan Kutukan Ingatan dan Cerita Pendek Lainnya

Cover 2

SALAH satu cara untuk mengingat yang sudah ialah dengan menulis. Sebuah kegagalan bagi saya ketika tidak menuliskan apa-apa sepanjang hidup sebagai manusia. Setidaknya ada sebuah karya yang tertinggal….

Begitulah, kutipan yang saya dapat dari tulisan kawan lama yang saya anggap mempunyai makna bahwa manusia adalah tempat lupa. Maka dari itu saya menulis untuk memudahkannya. Mulanya, saya masih ingat, di tahun 2015 adalah awal saya menggeluti dunia menulis. Namun tulisan-tulisan di tahun tersebut hanya berupa catatan-catatan biasa yang saya salin ke blog pribadi. Tentu saja hanya untuk dinikmati sendiri. Berangkat dari kebiasaan tersebut, lambat laun kegiatan menulis ini sudah semacam kebutuhan tersendiri bagi saya. Barang-kali memang benar, menulis adalah kutukan.

Di pertengahan tahun 2016, barulah saya mulai mencoba menulis cerita fiksi (bukan cerpen dalam arti wikipedia). Keasikan saya pada ruang fiksi akhirnya membawa gerak mata saya untuk terus membeli buku-buku yang perlu memuaskan kebutuhan saya itu (buku-buku kumpulan cerpen dan buku-buku fiksi lainnya, khususnya yang beraliran surealis, entahlah kenapa saya menyukai genre ini). Dari buku-buku itulah saya mulai belajar dan mencoba untuk menulis cerpen. Saya percaya, sebuah awalan adalah juga berarti sebuah kegagalan. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses. Dan pada masa itu, akhirnya saya pun berhasil gagal. Gagal menulis cerpen dalam arti Wikipedia.

Dan di akhir tahun 2016 akhirnya saya menemukan nyawa untuk menulis cerpen lagi, setelah tak sengaja menemukan sebuah cerpen yang dimuat di harian Kompas, “Nalea” karya Sungging Raga. Nyawa ini saya dapat bukan setelah membaca isi dari cerpen tersebut, melainkan setelah saya membaca biodatanya. Tentu saja saya kaget, karena di biodata tersebut penulisnya adalah kelahiran Situbondo. Dari situlah timbul pertanyaan-pertanyaan tak berbobot seperti; kok bisa ya? Ah, masak iya orang Situbondo bisa tembus koran nasional seperti ini? Bagaimana ya caranya? dll (Maklum, saya belum mengerti bagaimana gerak media). Nah, berangkat dari itu, saya mulai mencari-cari nama Sungging Raga. Mencari dan terus mempelajari karya-karyanya. Semakin saya mendalami, semakin saya ingin menulis cerpen lagi. Saya bergerak sendiri, tanpa komunitas, tanpa teman bicara, bahkan tanpa seorang kekasih (bukan dalam arti yang sebe-narnya). Begitulah, hingga tiba masanya, di awal-awal tahun 2017 cerpen saya dimuat pertama kali di media cetak, walaupun bukan koran nasional.

Perjalanan terus berlanjut hingga pada pertengahan tahun 2017 saya memutuskan mengumpulkan cerpen-cerpen saya untuk dibukukan secara indie. Hal tersebut bukan bertujuan untuk meraih keuntungan atau apalah itu yang berbau ke-uang-an. Bukan. Mempunyai buku tunggal, bagi saya adalah sebuah pencapaian, sekaligus bahan evaluasi untuk dapat lebih baik lagi. Ada juga tujuan terselubung lainnya yaitu sebagai poin plus untuk biodata saya ketika mengirim naskah ke media cetak atau online. Setidaknya ada jejak penerbitan atau apalah itu yang berhubungan dengan perbisnisan. Dan berhasil. Akhirnya salah satu cerpen saya tembus juga di koran nasional, Media Indonesia. Tentu saja dengan bantuan biodata yang menerangkan bahwa saya pernah mener-bitkan sebuah buku. Tapi tolong, hal ini jangan terlalu dibawa serius.

Dan sampailah saya di titik ini. Sebuah titik di mana sudah saatnya saya memulai sesuatu yang baru, karena kenangan telah menjadi abu-abu. Saya kembali memu-tuskan untuk mengumpulkan cerpen-cerpen saya di tahun 2017 sampai pertengahan 2018 untuk kembali dibukukan secara indie. Berangkat dari tema “Ingatan dan Kenangan”, saya mencoba memperluas gerak mengingat dan mengenang apa-apa yang sudah sebelum akhirnya menuangkannya ke dalam cerita. Ide-ide yang tertuang dalam cerpen-cerpen di buku ini pun tak lepas dari masalah tentang sebuah apa-apa yang sudah berlalu. Karena semua cerita yang saya tulis ini adalah cara saya untuk merawat ingatan dan kenangan.

Begitulah, dan jika ada yang ingin pesan silakan baca pamflet berikut:

51743201_1638446952967910_806032118688776192_n

Selengkapnya bisa via WA: 089625454446.

Terima kasih.

Iklan

4 respons untuk ‘Buku Kumpulan Cerpen: Romila dan Kutukan Ingatan dan Cerita Pendek Lainnya

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: