Oh, Bulan Juli …

Saya sempat mengingat, pada awal bulan ini saya buru-buru pergi ke kota rantau. Ya, Jember. Meninggalkan rumah dan keluarga. Saya tahu, bahwa liburan masih belum habis. Tapi saya sebagai mahasiswa akhir, saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. Mungkin bagi orang lain--mahasiswa lain--, lulus yang cepat bukan menjadi pilihan. Tapi saya rasa ini adalah renungan masing-masing.... Continue Reading →

Iklan

Di Sebuah Bangku Penumpang

-Saya menulis ini ketika sedang dalam perjalanan pulang ke kampung halaman. Hari ini tidak sedang hujan. Mendung pun tidak. Panas, penuh dengan keringat. Lusuh, ingin membilas tubuh. Di balik punggung sopir saya duduki bangku penumpang. Sangat menyenangkan ketika berada di dekat jendela. Dari balik jendela pula saya dapat melihat ke luar. Batas pandangan rabun ketika... Continue Reading →

Tahun ke Tiga

Saya ingin sedikit bercerita tentang adik saya. Hari ini tanggal 6 November 2016, genap sudah umurnya 3 tahun. Saya masih ingat, tiga tahun yang lalu, saya di pasrahkan untuk memberikan sebuah nama: Akbar Nurdaffa Risky. Entahlah, secara acak saya menggabungkan kata demi kata. Yang jelas semua kata itu terkandung di dalam kitab klasik. Umur 3... Continue Reading →

Mendung dan Cerita

Sudah sepurnama saya tak membuang tulisan di blog ini. Setelah kemarin bergelut dengan waktu, tersesat dalam dunia nyata, dan hari ini saya benar-benar merasa merdeka. Dan kebetulan hari ini mendung. Entah mengapa saya menyukainya. Saya hanya berfikir kuliah hari ini pasti libur. Kopi lagi kopi lagi. Mendung, kopi, lagu dangdut, ini membuat saya melayang. Seperti... Continue Reading →

Di Ruang Tengah

Hari ini, seperti biasa, saya selalu gagal untuk membilas tubuh di pagi hari. Bukan hanya saya. Kawan satu kontrakan pun demikian. Entahlah, kamar mandi itu menjauh dengan sendirinya. Ini bukan perihal malas. Bukan juga masalah dingin. Namun ini hanya mengenai kosongnya perut di pagi hari. Sungguh rutinitas yang keren bagi sebagian perantau. Jam dinding begitu... Continue Reading →

23.30

Seperti halnya ketika kamu bersepeda lalu dihadapkan pada jalanan yang menanjak. Terkadang kamu harus memilih, kembali atau terus mengayuh. Atau pilihan ketiga ialah turun dari sepeda dan menuntunnya. Sebab terlalu bernafsu terhadap tujuan juga tidak baik sebenarnya. Agustus, 2016

Sederhana dengan Mengayuh

Ketidakpastian adalah kebebasan untuk memilih. Ketika kamu dihadapkan dengan banyak pilihan, pungutlah sesukamu. Walau kamu tahu bahwa sebenarnya ada keraguan. Namun saat pilihan itu sudah kamu genggam, tetaplah nikmati bersama ketidakpastian yang selalu merintih. Percayalah bahwa di ujung sana kamu akan menemukan kepastiannya. "Besok lanjut bersepeda mas? Kemana?" "Ayo dah. Ke pantai enak lep. Lumayan... Continue Reading →

23:23

Terkadang dosa akan membuat kita belajar -lebih- dewasa. Hidup tak melulu tentang kebaikan. Ceritakanlah tentang keburukan yang sudah tertulis di masa lalu. Sebab mengakui keburukan adalah kebaikan yang sesungguhnya Juli, 2016

22.38

Sebuah keburukan nampak begitu sulit untuk sekadar diceritakan. Namun dengan keburukan, kita akan belajar pada yang bernama kehidupan. Bahwa semua berhak untuk menemukan sadarnya masing-masing. Dan dengan keburukan pula lah kita akan berujung pada sebuah penyesalan. Maka kata maaf akan lahir untuk -sekadar- menceritakan bahwa keburukan adalah kebaikan yang -barangkali- selalu kita tunda Juli, 2016

Blog di WordPress.com.

Atas ↑