Tentang Kota dalam Pikiran (Dimuat di Takanta.id edisi 20 Januari 2019)

“Jadi, beginikah perasaan seseorang sebelum mengalami perpisahan?” tanya wanita itu kepada kekasihnya, di sebuah bangku taman yang melingkar, di bawah sinar bulan yang keperak-perakan, bersama angin, bersama dingin. Angin meminta mereka untuk saling menggenggam tangan. Dan dingin meminta mereka untuk jangan sampai saling melepaskan. “Tenang saja, pada setiap malam akan selalu kukirimkan mimpi untukmu.” “Bagaimana... Continue Reading →

Iklan

Percakapan Malam Hari (Dimuat di Takanta.id edisi 27 Mei 2018)

“Apa yang akan kau lakukan ketika suatu saat aku ketahuan selingkuh?” tanya seorang suami kepada istrinya. Di sebuah malam yang dingin. Di hadapan meja bundar yang memamerkan secangkir kopi. “Kau sungguh menanyakan hal itu kepadaku?” “Tentu saja.” “Aku tidak tahu.” “Tapi kau harus menjawabnya.” “Apa yang membuatmu menanyakan hal itu? Apakah kau ingin menikah lagi?”... Continue Reading →

Sebungkus Kado untuk Arila

  -Cerpen ini saya tulis sekitar tiga ratus enam puluh sembilan hari yang lalu. Cerpen ini, kalau boleh jujur, adalah hasil imajinasi dari mimpi saya sendiri, dan sekaligus adalah cerpen pertama yang saya tulis. Sesuai dengan judulnya, cerita ini adalah bentuk dari sebuah kado untuk seseorang. Tentu saja perempuan. Dan jika ada yang bertanya di... Continue Reading →

Janin (Dimuat di Apajake.id edisi 27 Desember 2017)

Dulu, ketika aku masih tertidur di alam rahim, sebelum usiaku menginjak sembilan purnama, aku sempat bermimpi. Dalam mimpiku itu, mimpi yang kurasa adalah mimpi buruk, aku bunuh orangtuaku sendiri. Tapi kenyataannya, akulah yang telah dibunuh oleh mereka. Dan pada saat aku terbunuh, aku terbang bebas ke langit. Juga bersama janin-janin lainnya. *** Jika kau sempat... Continue Reading →

Tentang Kota yang Kesepian (Dimuat di Cendana News edisi 9 Desember 2017)

            Suatu saat nanti, entah kapan,             Saya percaya, kota ini akan bergerak.             Menemui nasib yang lebih baik.             Sebab waktu, ia tidak pernah diam.             Langit sudah cerah, ketika Sahir pulang, pukul 5 pagi. Tapi udara masih dingin. Ia sedang memeluk seorang anak laki-laki yang mengenakan baju compang-camping, mungkin usia 12 tahun. Di... Continue Reading →

Tempat Duduk Pengantin

Aku terlihat rapi mengenakan jas pengantin. Hitam pekat, mengalahkan hitamnya malam saat ini. Kerah yang terikat oleh dasi, membuat leher kemejaku sedikit tercekik. Tepat di sebelahku, sosok perempuan yang sudah lama kukenal sedang mengenakan gaun pengantin. Ia terlihat begitu anggun. Di atas panggung, di sebuah kursi yang disebut pelaminan, kami seperti menjadi objek wisata. Tentu... Continue Reading →

Sedikit

-sebuah fiksi Aku sedikit gelisah ketika di luar sedang hujan. Hari itu hujan mengepung lingkungan kampus. Bukan hanya perihal datang dan pulang. Semua tahu bahwa hujan pasti akan berhenti. Dan kamu tahu bahwa aku sedikit gelisah bukan karena hujan. Tetapi karena terjebak hujan denganmu. Kamu pintar dalam membaca raut wajah. Dan aku sedikit bodoh untuk... Continue Reading →

Mimpi Pada Sebuah Kereta

-sebuah fiksi Tadi pagi hampir hujan. Untung saja mendung tak meneteskan ludahnya. Aku pergi tanpa membawa payung. Sendiri tanpa kawan, tanpa sanak maupun keluarga, apalagi kekasih. Tanpa semuanya. Aku hanya membawa tas hitam berisikan dua nasi bungkus dan beberapa potong baju. Hari ini aku berniat untuk pergi jauh dari desa. Pada akhirnya hujan turun. Tepat... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑