Kosong

Beberapa detik sebelum kau tertidur, ada yang membuatmu merasa sedikit gelisah. Mungkin kota. Atau taman. Oh, barangkali aku hanya menduga. Di sudut kamarmu, siluet tangan bergerak. Menembus dinding. Kau bertanya kepada malam, "Adakah sedikit kebahagiaan yang kaurasakan setelah kepergian senja?" Di waktu yang lain, aku mengingat jelas keinginan yang kaukatakan, "Aku ingin menjadi bulan," katamu... Continue Reading →

Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat. Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun, ia juga lupa denganmu. Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi, kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir. Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan. Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar... Continue Reading →

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu. Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding. Sekali lagi, mereka bertanya: "Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?" Sajak memang kawan kita, akhirnya. Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin. Tapi, siapa yang tahu? Tak ada. Sajakmu, sajakku, lahir kembali. Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam. Tapi, tak ada yang hilang, kataku. Mereka bertanya, ada apa sebenarnya? Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku. Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan. Sajakmu, sajakku, telah mati di sana. Jember, Februari 2017

Kadang, Tak Ada yang Membaca

Ada daun menjadi kering terkena hujan. Ada manusia sedang membasuh nasibnya, pada sungai yang mengalir doa. Di hadapannya, makhluk bersayap hitam berdiri tegap. Ia mengambil beberapa bayi, lalu terbang. Di sini masih mendung, masih saja seperti kemarin. Barangkali, langit sedang bermain dengan dingin, seakan tak ingin membuang hujan lagi. Bisikan kecil tiba-tiba menampar telinga: "Katakan... Continue Reading →

Sajak Tentang Emosi

Aku ingin menulis sajak, sedikit saja Karena sunyi ini hampir membunuh doaku Aku ingin menulis doa, sepenggal saja Karena pekat ini hampir menampar wajahmu Kamu percaya, Masih banyak tempat lain yang lebih indah dari taman, bukan? Aku ingin mengajakmu ke sana Seperti pelabuhan, yang tak mengajarkan bunga bermekaran Aku ingin sekadar belajar melempar sauh di... Continue Reading →

Untuk Bunga

Untuk Bunga, yang sedang rebah di pembaringan Detak jarum jam terus memutar dirinya sendiri Terus mengulang dirinya sendiri Sekehendaknya mengatur keberangkatan dan kepulangan Lalu aku, lelaki yang di balur kekalutan Sedang mengeja namamu di pengujung malam Berbisik di sela-sela telinga kirimu: "Tetaplah tersenyum, maka masalah terselesaikan" Untuk Bunga, yang sedang menyiram kelopaknya Aku menulis ini... Continue Reading →

Bunga Untuk Ibu

Ibu, begitu aku memanggilmu Ibu, hadir atas nama cinta Dari sebuah karya Tuhan yang disebut seorang hawa Takdir menjadikan aku sebagai anak Dan Ibu, begitu pula sebaliknya Tidak ada yang minta untuk dilahirkan Aku begitu lancang dengan sajak yang ku tulis Dengan semua peristiwa yang telah hadir di depan matamu Semua tidak sebanding, tidak sedikit... Continue Reading →

Pagi dan Bunga

Ku sebut kau Bunga Dalam kisah yang ditulis sendiri sang Tuan Dingin, sunyi dan menggigil Sedikit peristiwa lampau masuk diam-diam Melewati jendela kamar yang lupa ditutup semalam Malam sudah terlampau remang lalu basah Embun menjelma kelahiran lain Kelopak Bunga sudah lama terpejam Diam-diam mengintip karya surga dari mata seorang hawa Bulu pena sang Tuan terlihat... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑