Oh, Bulan Juli …

Saya sempat mengingat, pada awal bulan ini saya buru-buru pergi ke kota rantau. Ya, Jember. Meninggalkan rumah dan keluarga. Saya tahu, bahwa liburan masih belum habis. Tapi saya sebagai mahasiswa akhir, saya harus menyelesaikan tugas akhir saya. Mungkin bagi orang lain--mahasiswa lain--, lulus yang cepat bukan menjadi pilihan. Tapi saya rasa ini adalah renungan masing-masing.... Continue Reading →

Iklan

Tempat Duduk Pengantin

Aku terlihat rapi mengenakan jas pengantin. Hitam pekat, mengalahkan hitamnya malam saat ini. Kerah yang terikat oleh dasi, membuat leher kemejaku sedikit tercekik. Tepat di sebelahku, sosok perempuan yang sudah lama kukenal sedang mengenakan gaun pengantin. Ia terlihat begitu anggun. Di atas panggung, di sebuah kursi yang disebut pelaminan, kami seperti menjadi objek wisata. Tentu... Continue Reading →

Ada Sebuah Mimpi; Ada Sebuah Ruang

Denting jarum pada jam seakan melambat. Aku pernah kenal hari ini: pagi yang saat itu lupa tentang embun, ia juga lupa denganmu. Aku juga pernah ingat, mimpi memberi penawaran: seperti mimpi, kau tak perlu takut, ia seperti mewakili sebuah takdir. Ada sebuah ruang, dengan sajak-sajak yang berantakan. Sajakmu, sajakku, memang berkawan. Sejak kau berani melempar... Continue Reading →

Batas (2)

Ruang itu disebut batas; juga dinding itu. Ruang itu tenggelam, ke dalam dinding. Sekali lagi, mereka bertanya: "Kenapa di sana, kalian membikin teka teki?" Sajak memang kawan kita, akhirnya. Pisau itu telah selesai membunuh, kemarin. Tapi, siapa yang tahu? Tak ada. Sajakmu, sajakku, lahir kembali. Jember, Februari 2017

Batas

Sebenarnya, katamu, mendung adalah malam. Tapi, tak ada yang hilang, kataku. Mereka bertanya, ada apa sebenarnya? Terjemahkan saja semua sajak itu: sajakmu, sajakku. Atau dinding itu, batas antara resah dan ketidakwarasan. Sajakmu, sajakku, telah mati di sana. Jember, Februari 2017

Kadang, Tak Ada yang Membaca

Ada daun menjadi kering terkena hujan. Ada manusia sedang membasuh nasibnya, pada sungai yang mengalir doa. Di hadapannya, makhluk bersayap hitam berdiri tegap. Ia mengambil beberapa bayi, lalu terbang. Di sini masih mendung, masih saja seperti kemarin. Barangkali, langit sedang bermain dengan dingin, seakan tak ingin membuang hujan lagi. Bisikan kecil tiba-tiba menampar telinga: "Katakan... Continue Reading →

Sajak Tentang Emosi

Aku ingin menulis sajak, sedikit saja Karena sunyi ini hampir membunuh doaku Aku ingin menulis doa, sepenggal saja Karena pekat ini hampir menampar wajahmu Kamu percaya, Masih banyak tempat lain yang lebih indah dari taman, bukan? Aku ingin mengajakmu ke sana Seperti pelabuhan, yang tak mengajarkan bunga bermekaran Aku ingin sekadar belajar melempar sauh di... Continue Reading →

Untuk Bunga

Untuk Bunga, yang sedang rebah di pembaringan Detak jarum jam terus memutar dirinya sendiri Terus mengulang dirinya sendiri Sekehendaknya mengatur keberangkatan dan kepulangan Lalu aku, lelaki yang di balur kekalutan Sedang mengeja namamu di pengujung malam Berbisik di sela-sela telinga kirimu: "Tetaplah tersenyum, maka masalah terselesaikan" Untuk Bunga, yang sedang menyiram kelopaknya Aku menulis ini... Continue Reading →

Bunga Untuk Ibu

Ibu, begitu aku memanggilmu Ibu, hadir atas nama cinta Dari sebuah karya Tuhan yang disebut seorang hawa Takdir menjadikan aku sebagai anak Dan Ibu, begitu pula sebaliknya Tidak ada yang minta untuk dilahirkan Aku begitu lancang dengan sajak yang ku tulis Dengan semua peristiwa yang telah hadir di depan matamu Semua tidak sebanding, tidak sedikit... Continue Reading →

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑